Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Maret 2010

Labuh Saji Nalayan Mundu Pesisir Cirebon

Dari Instalasi Menuju Ilahi
OlehMatdon

Upacara buang saji atau labuh saji atau nyadran atau nadran atau pesta laut merupakan peristiwa budaya yang biasa dilakukan masyarakat nelayan, dan bukan merupakan seni pertunjukan. Namun, ketika upacara labuh saji ini dilakukan masyarakat nelayan laut Mundu Pesisir Cirebon, maka labuh saji menjadi sebuah seni pertunjukan dan peristiwa budaya yang besar dan menakjubkan.
Dalam upacara labuh saji yang diselenggarakan Ahad (13/7), untuk yang pertama kalinya dalam kurun waktu ratusan tahun, masyarakat nelayan yang notabene merupakan rakyat pinggiran dapat merasakan kesejukan Keraton Kasepuhan Cirebon. Taman Keraton yang luas tetapi kurang terawat itu menjadi tempat berkumpulnya para nelayan yang membawa berbagai hiasan dengan segala bentuk, labuh saji diikuti oleh lebih dari 300 perahu nelayan, biasanya hanya diikuti kurang dari 100 perahu.
Peristiwa ini harus diakui sebagai sejarah tradisi pesisir yang berasal dari anyaman nilai-nilai yang sangat dinamis kelautan, daan merupakan gabungan berbagai elemen masyarakat pesisir yang menjadi ciri dari kebudayaan pantai, dikemas dalam bentuk ritus sosisal. Konon, masyarakat nelayan sejak zaman kerajaan kerajaan, sangat sulit untuk ditaklukkan untuk memperluas kerajaan, di mana pun, di nusantara ini. Selain itu, masyarakat nelayan merasa kehidupan mereka tidak diperhatikan oleh pihak kerajaan (Keraton).
Minggu kemarin, ”keterpisahan” antara Keraton dan nelayan tidak tampak lagi. Sejarah yang panjang itu seakan terpupus dengan kegiatan Sukur Pesisiran yang diselenggarakan ALIF (Aliansi Indonesia Festival), dan ajang ini menjadi sebuah kekuatan gaib yang mempersatukan mereka. Demokrasi budaya terwujud tanpa sengaja, dan perhelatan budaya ini menjadi menarik dan menjadi sebuah pertunjukan langka.
Upacara labuh saji sendiri sebenarnya sudah lama dilakukan masyarakat nelayan Mundu Pesisir. Setiap tahun mereka menyelenggarakannya, tapi kali ini menjadi lain. Peristiwa pertama dalam sejarah, saat para nelayan menginjakkan kaki mereka di taman Keraton Kasepuhan harus dicatat dalam ingatan kolektif. Putra Mahkota Keraraton, Raja Pangeran Arif Natadiningrat SE, hari itu benar-benar berbaur dengan kaum nelayan.
Helaran atau arak-arakan menampilkan 21 kesenian khas Cirebon, seperti Dayak Sumbu, Genjring Santri, Tarling Obrog, Topeng Mbeling, Barongsay, Ronggeng Bugis dan lain-lain. Tradisi ini, mungkin hal biasa pula bagi mereka, tapi karya yang mereka buat, seperti membuat sebuah gerobak berisi dua wanita yang sedang hamil didorong oleh seorang laki-laki, di atas gerobak tertulis ”Akibat Pergaulan Bebas”, menjadi sebuah instalasi yang tidak kalah oleh grafis Tisna Sanjaya, atau seniman terkemuka lain. Tampak sebuah patung nelayan terbuat dari kardus, di bawahnya tertulis ”Mengkonon Cah, Nasibe Wong Nelayan” atau pada karya sebuah parahu yang ditumpangi singa, tertuliskan ”Awas Wong Mundu Arep Lewat’, dan sebuah becak hias yang ditulisi ”Permainan Rakyat Nalayan Dibunuh Ekonomi”, serta berbagai karya lainnya.
Karya-karya itu diarak sepanjang 5 km, dari Keraton Kasepuhan menuju Mundu Pesisir, sepanjang jalan, warga Cirebon tak henti-hentinya menyambut kedatangan rombongan helaran.
Sekitar pukul 09.00 WIB, semua nelayan sudah berkumpul di Mundu, semua warga perkampungan nelayan Mundu, perkampungan Mundu yang dihuni 400 rumah itu menjadi hiruk-pikuk, sebuah pesta rakyat yang benar-benar memberi sentuhan demokrasi budaya, katakanlah semacam interupsi hidup keseharian mereka, penyegaran daya cipta dan pembangunan kembali solidaritas, nilai-nilai budaya saat itu hadir dan semua lapisan masyarakat mendapatkan tempat untuk aktualisasai diri.
Sebanyak 300 perahu mulai beringsut dari daratan menuju tengah laut, tiap-tiap perahu ditumpangi 10—15 orang. Ki Dalang Tomo dari Desa lain memainkan wayang kulit dengan irirngan Kidung Bedug Basuh, sebuah doa pengantar atas keselamatan para penumpang perahu. Setelah itu, semua perahu menuju tengah laut. Iring-iringan ditimpali doa, kidung, dan musik Tarling obrog, semua komposisi musik pesisir dimainkan sempurna.
Tibalah saatnya, upacara ritual Labuh Saji dimulai. Kumandang azan mengawalinya, lalu doa keselamatan dan diakhiri dengan membuang kepala kerbau, buah-buahan, serta makanan serta minuman ke lautan luas itu. Upacara ini menurut Khaerun, salah seorang sesepuh Mundu kepada penulis saat bincang-bincang di atas perahu di lautan bebas usaia upacara, merupakan bentuk upacara rasa sukur kepada Tuhan YME, atas limpahan tangkapan ikan serta permohonan keselamatan di laut. Sesampai kembali di daratan, semua warga melakukan ritual konsumsi bersama dan pencucian perahu.
Perkembangan teknologi memang telah menyusutkan peran historis kawasan pesisir. Namun, tradisi mereka begitu kuat, kepekaan dan keterbukaan mereka atas kecanggihan teknologi tidak lantas membuat mereka ”mabuk daratan”, laut tetap menjadi tumpuan harapan.
Lewat Labuh Saji, pandangan masyarakat tiap tahun memantapkan diri mereka untuk tetap bertahan di lautan, dan labuh saji menjadi semacam festival rakyat yang menggabungkan berbagai elemen masyarakat. Semua pihak, telah mematri bagian bagian sejarah budaya kuat itu, sebuah sarana perdamaian, mempertahankan martabat keakuan manusia. Dan mereka telah merayakan laut menghormati tanah, sejak 11 – 17 Juli 2003, dua panggung di perkampungan nelayan Mundu, membuat pertunjukan seni tradisi, sejak pagi hingga malam, semuanya merupakan refleksi rasa syukur pada Ilahi. ***
Copyright © Sinar Harapan 2003
http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2003/0726/bud2.html

Berita dibuang sayang

DISPERINDAG PAMERKAN KERAJINAN ETNIK CIREBON
Cirebon, 1/12 (ANTARA) - Dinas Perindutrian dan Perdagangan (Disindag) kota Cirebon memamerkan produk kerajinan etnik Cirebon buah karya 20 warga binaannya mulai tanggal 1 hingga 4 Desember 2009.
Kepala Disindag Kota Cirebon Rohaedy Yoedhy mengatakan, pameran tersebut tujuannya sebagai tantangan untuk warga binaannya menampilkan produk kerajinannya kepada masyarakat luas.
"Kami punya 100 warga binaan yang menghasilkan produk kerajinan yang inovatif dan khas Cirebon. Pameran ini sebagai tantangan untuk para perajin untuk menampilkannya ke masyarakat luas, dan jika responnya baik maka besar kemungkinan hasil karyanya akan ditampilkan ke tingkat yang lebih luas lagi," kata Yoedhy, Selasa .
Sejumlah produk kerajinan khas Cirebon yang ditampilkan dalam pameran tersebut yang merupakan produk unggulan warga binaannya seperti batik, ukiran kayu, lampu hias fiber, lukisan kaca, topeng dan sejumlah makanan ringan khas cirebon.
Pameran yang digelar di halaman kantor Disperindag di Jl Dr Cipto Mangunkusumo Kota Cirebon tersebut memilik 10 saung yang diisi oleh barang-barang kerajinan hasil karya dua orang perajin.
Selain menghadirkan berbagai produk kerajinan khas Cirebon, pameran tersebut juga dimeriahkan oleh pertunjukan kesenian tradisional khas Cirebon seperti tari topeng, tarling dan sintren.
"Untuk jam-jam tertentu, kami menampilkan juga kesenian khas Cirebon agar bisa menarik masyarakat Cirebon untuk datang ke pameran," kata Halimi, Kasi Industri Logam, Mesin, Elektronik dan Aneka Disindag Kota Cirebon sekaligus ketua panitia pameran saat di lokasi pameran.
Bahkan agar masyarakat tertarik terhadap kebudayaan Cirebon, Halimi telah mengagendakan setiap perajin mempertontonkan keahliannya dalam menciptakan kreasinya.
"Mudah-mudahan ada ketertarikan dari para pengunjung sehingga ingin belajar membuat kerajinan khas Cirebon sehingga keberadaannya tetap lestari," katanya.

(T.PSO-059/B/Y003/Y003) 01-12-2009 16:48:29
http://www.koran-jakarta.com/berita-detail-terkini.php?id=23673
Selasa, 01 Desember 2009 16:49

Naskah Kuno Cirebon Terancam Musnah

CIREBON-Ratusan naskah kuno berusia ratusan tahun milik Keraton Kasepuhan dan Kanoman Cirebon terancam musnah. Tidak layaknya tempat penyimpanan ratusan naskah bersejarah merupakan faktor utama musnahnya naskah kuno tersebut. Selain itu, ancaman pencurian pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab terhadap naskah kuno juga menjadi persoalan yang kerap menghantui pihak keraton.
Putra Mahkota Keraton Kasepuhan P.R.A. Arief Natadiningrat yang dikonfirmasi, Senin (8/3), mengakui soal kurang terawatnya naskah kuno milik Keraton Kasepuhan.
Ia menjelaskan, naskah kuno tidak mendapat perlakuan yang semestinya karena keterbatasan biaya. Sehingga pihak keraton tidak memiliki biaya untuk menyediakan sarana prasarana memadai, seperti lemari dan gedung penyimpanan yang representatif. Penyimpanan dan perawatan naskah kuno pun dilakukan seadanya.
”Naskah kuno kondisinya memang tidak terawat, tetapi masih tersimpan di keraton. Persoalannya, ketika ada pengunjung dari dalam negeri ataupun luar negeri terpaksa harus lebih waspada mengamati gerak-geriknya. Takutnya naskah kuno dicuri,” kata Arief.
Menurut Arief, dari lebih dari seratus naskah kuno yang ada, di antaranya naskah peninggalan atau dibuat era Sunan Gunung Jati, panembahan, dan era sultan sepuh.
Bahasa dan bahan yang digunakan naskah kuno pun beragam. ”Ada bahasa Sansekerta, Arab pegon, bahasa Cirebon dan bahasa Arab. Bentuk lembaran-lembaran naskah kunonya pun berupa daun lontar, kertas, dan kulit,” tuturnya.
Karena orisinal dan nilai sejarah yang tinggi, menurut Arief, naskah kuno itu seharusnya mendapat perawatan dan tempat penyimpanan yang representatif. Mengingat, naskah kuno harus diperlakukan atau dirawat dengan mengatur suhu saat dalam ruang penyimpanan. Selama ini naskah-naskah kuno itu disimpan pada tempat yang seadanya.
Sementara untuk menghindari kemungkinan dari upaya pencurian, menurut dia, pihaknya bekerja sama dengan sejumlah pihak, salah satunya dengan Perpustakaan Nasional yang telah menerjemahkan sejumlah naskah kuno ke dalam bahasa Indonesia.
*) Dikronik dari Pikiran Rakyat Online, 8 Maret 2010
sumber : http://indonesiabuku.com/?p=4472
Gambar : Google

Subardi Berharap Cirebon Dapat Adipura Lagi

CIREBON, TRIBUN - Meski tahun ini Kota Cirebon masuk kategori kota sedang, Wali Kota Subardi tetap berharap kotanya bisa meraih Adipura kembali. Karena itu, Jumat lalu, ia kembali meresmikan program gerakan kebersihan di Kota Cirebon.

"Sebetulnya gerakan kebersihan ini sudah ada dan dilaksanakan di Kota Cirebon. Namun supaya warga masyarakat lebih giat lagi, kami gaungkan kembali. Apalagi kami punya cita-cita meraih Piala Adipura," ujar Subardi, seusai meresmikan gerakan kebersihan, Jumat lalu di Balai Kota Cirebon.

Menurut Subardi, yang diincar oleh pihaknya saat ini bukan hanya Adipura, melainkan Adipura Kencana. Pasalnya, Kota Cirebon sudah beberapa kali meraih Adipura, dan saatnya kini meraih Adipura Kencana.

"Namun ada yang berbeda untuk tahun ini. Jika sebelumnya Cirebon masuk kategori kota kecil, nah, tahun ini masuk kota sedang," katanya. Karena itu, penilaian akan semakin bertambah, yakni menjadi 70 titik penilaian.

Meski demikian, Subardi berharap, Kota Cirebon bisa meraihnya. Tentu saja dengan dukungan dari seluruh warga Kota Cirebon.

Disinggung soal tempat pembuangan sampah sementara (TPS) yang berada di pinggir jalan raya yang selalu meluber hingga ke badan jalan, Subardi mengatakan itu perlu dibenahi. Pasalnya, tidak hanya mengganggu pemandangan kota, tapi juga menyumbang bau tak sedap bagi setiap pengguna jalan. (ww)

http://www.tribunjabar.co.id/read/artikel/17635/subardi-berharap-cirebon-dapat-adipura-lagi


Rabu, 10 Maret 2010

Caruban Nagari, Menengok Cirebon di Masa Silam

Selasa, 19 Januari 2010 | 16:30 WIB

PANORAMA Hindia Belanda yang bergunung-gunung, berbukit, ditambah hamparan sawah hijau menguning menjadi salah satu hal yang membuat warga Belanda terkagum-kagum. Lukisan alam itu banyak mengisi album keluarga Belanda yang pernah menjalani hidup di salah satu tempat di Nusantara ini.

Sebut saja WG Peekema asal Den Haag dan Nyonya Fisser-Schefer dari Hilversum. Nyonya Peekema menyimpan foto panorama Gunung Ciremai di tahun 1920. Dalam koleksi foto tua di KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal en Volkenkunde/Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Carribbean studies) atau Lembaga Studi Asia Tenggara dan Karibia Kerajaan Belanda, hasil jepretan Peekema diberi nama De Tjermai met op de voorgrond de grote weg tussen Cheribon en Koeningan, gezien vanuit het noordoosten (Gunung Cermai dengan latar depan jalan utama yang menghubungkan Cirebon – Kuningan, dilihat dari arah timur laut). Gambar diambil sekitar tahun 1920.

Sementara Fisser-Schefer mengambil pemandangan Cirebon dengan Gunung Ciremai pada 1938. Fotonya lebih menggambarkan suasana kota Cirebon yang berhadapan dengan Gununng Ciremai.

Gunung Ceremai atau Ciremai masuk dalam tiga wilayah kabupaten di Jawa Barat, yaitu Cirebon, Kuningan, dan Majalengka. Gunung api ini adalah gunung tertinggi di Jawa Barat dan memang bisa dinikmati siapapun yang melintas jalur pantura di sekitar Cirebon. Menurut Thomas Stamford Raffles dalam History of Java yang terbit pada 1817, gunung itu merupakan tempat Raden Tanduran melakukan upacara penebusan dosa. Raden Tanduran tak lain pendiri Kerajaan Majapahit pada 1221. Raffles menyebut Gunung Chermai sebagai sebuah gunung di Cheribon.

Dalam kisah tentang asal muasal Cirebon dikatakan, Cirebon berasal dari bahasa Sunda, Cai dan Rebon, air dan udang. Kisah lain menyebutkan, Cirebon berasal dari kata Sarumban kemudian berubah menjadi Caruban atau campuran karena Cirebon sebagai kota pelabuhan menjadi tempat bercampurnya suku Jawa, Sunda, Arab, Melayu, dan China. Caruban berubah lagi menjadi Carbon, Cerbon, dan Cirebon. Kota ini berdiri sekitar 1440-an.

Sementara itu Pramoedya Ananta Toer dalam Jalan Raya Pos, Jalan Daendels mengisahkan, Cirebon muncul dalam sejarah Indonesia sejak masuknya Islam yang dibawa pedagang pribumi. Di masa Hindu, peranan Cirebon kurang penting. Cirebon tak bisa lepas dari kisah Sunan Gunungjati alias Syeh Maulana. Pram mengingat tahun 1946 yang diharapkan tak terulang lagi di mana gaji sebagai letnan dua hanya diterima separuh dari yang ditetapkan pemerintah. Korupsi sudah mulai merajalela, begitu kata Pram.

Sejak tahun 1678, di bawah perlindungan Banten, Kasultanan Cirebon terbagi tiga, yaitu pertama Kesultanan Kasepuhan, dirajai Pangeran Martawijaya, dikenal dengan Sultan Sepuh I. Kedua Kesultanan Kanoman, dikepalai oleh Pangeran Kertawijaya atau beken sebagai Sultan Anom I dan ketiga Panembahan yang dikepalai Pangeran Wangsakerta atau Panembahan Cirebon I.

Kota Cirebon tumbuh perlahan-lahan, demikian catatan Nina H Lubis dalam Sejarah Kota-kota Lama di Jawa Barat, pada tahun 1858, di Cirebon terdapat 5 toko eceran dua perusahaan dagang. Pada tahun 1865, tercatat ekspor gula sejumlah 200.000 pikulan (kuintal), dan pada tahun 1868 ada tiga perusahaan Batavia yang bergerak di bidang perdagangan gula membuka cabang di Cirebon. Pada tahun 1877 Cirebon sudah memiliki pabrik es. Pipa air minum yang menghubungkan sumur-sumur artesis dengan perumahan dibangun pada tahun 1877.

Bagi yang tertarik menengok peninggalan Cirebon dan Kuningan, Komunitas Historia Indonesia bekerja sama dengan Cirebon Heritage Society - Kendi Pertula, Pemerintah Kota Cirebon, Pemerintah Kabupaten Cirebon, dan Pemerintah Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat akan menggelar Caruban Nagari Heritage Trails: Menelusuri Sejarah, Menguak Jejak Warisan Budaya Caruban Nagari.

Cirebon dan kisah panjangnya tak lepas dari sejarah kota-kota di dekatnya, seperti Kuningan dan Indramayu. Bagaimana kini kondisi makam Sunan Gunungjati, Karesidenan Cirebon, balai kota Cirebon, panorama kota Cirebon dari menara Masjid At-taqwa, Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Goa Sunyaragi petilasan para Sultan Cirebon, dan kemudian Kampung Budaya Cigugur di Kuningan? Itu bisa kita lihat langsung bersama rombongan, tentunya.

Menurut Asep Kambali, peserta antara lain akan dibawa ke gedung-gedung besejarah, makam keramat, kampung budaya, kawasan megalitikum, kota tua, bendungan dan kawasan pemandian keramat yang ada di kawasan Caruban Nagari , Cirebon, Indramayu, dan Kuningan. Antara lain, tempat-tempat yang sudah tertulis di atas. Acara ini digelar 30 dan 31 Januari 2010 dengan biaya Rp 550.000/orang. Yang tertarik, silakan SMS ke Rika di 0858.8563.7567.


WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto http://www1.kompas.com

Selasa, 09 Maret 2010

Ratusan Naskah Kuno Cirebon Terancam Musnah

CIREBON-Ratusan naskah kuno berusia ratusan tahun milik Keraton Kasepuhan dan Kanoman Cirebon terancam musnah. Tidak layaknya tempat penyimpanan ratusan naskah bersejarah merupakan faktor utama musnahnya naskah kuno tersebut. Selain itu, ancaman pencurian pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab terhadap naskah kuno juga menjadi persoalan yang kerap menghantui pihak keraton.

Putra Mahkota Keraton Kasepuhan P.R.A. Arief Natadiningrat yang dikonfirmasi, Senin (8/3), mengakui soal kurang terawatnya naskah kuno milik Keraton Kasepuhan.

Ia menjelaskan, naskah kuno tidak mendapat perlakuan yang semestinya karena keterbatasan biaya. Sehingga pihak keraton tidak memiliki biaya untuk menyediakan sarana prasarana memadai, seperti lemari dan gedung penyimpanan yang representatif. Penyimpanan dan perawatan naskah kuno pun dilakukan seadanya.

”Naskah kuno kondisinya memang tidak terawat, tetapi masih tersimpan di keraton. Persoalannya, ketika ada pengunjung dari dalam negeri ataupun luar negeri terpaksa harus lebih waspada mengamati gerak-geriknya. Takutnya naskah kuno dicuri,” kata Arief.
Menurut Arief, dari lebih dari seratus naskah kuno yang ada, di antaranya naskah peninggalan atau dibuat era Sunan Gunung Jati, panembahan, dan era sultan sepuh.

Bahasa dan bahan yang digunakan naskah kuno pun beragam. ”Ada bahasa Sansekerta, Arab pegon, bahasa Cirebon dan bahasa Arab. Bentuk lembaran-lembaran naskah kunonya pun berupa daun lontar, kertas, dan kulit,” tuturnya.

Karena orisinal dan nilai sejarah yang tinggi, menurut Arief, naskah kuno itu seharusnya mendapat perawatan dan tempat penyimpanan yang representatif. Mengingat, naskah kuno harus diperlakukan atau dirawat dengan mengatur suhu saat dalam ruang penyimpanan. Selama ini naskah-naskah kuno itu disimpan pada tempat yang seadanya.

Sementara untuk menghindari kemungkinan dari upaya pencurian, menurut dia, pihaknya bekerja sama dengan sejumlah pihak, salah satunya dengan Perpustakaan Nasional yang telah menerjemahkan sejumlah naskah kuno ke dalam bahasa Indonesia.

*) Dikronik dari Pikiran Rakyat Online, 8 Maret 2010
http://indonesiabuku.com

Kota Cirebon Miliki Lampu Merah Bertenaga Surya

CIREBON,- Warga kota Cirebon boleh berbangga hati, pasalnya, kota cirebon saat ini telah memiliki lampu merah (lamer-red) bertenaga matahari. Lamer yang satu ini adalah proyek pusat dan berbeda dengan lampu merah bertenaga listrik lainnya selama ini. Jelas, perbedaan ini sangat menguntungkan pihak Dishub dengan tidak lagi harus membayar ke pihak PLN. Lamer bertenaga surya ini bertempat dipersimpangan Terusan Pemuda.

Ketika dikonfirmasikan kepihak Dishub, Plt Kadishubinfokom Kota Cirebon, Drs Nurhendra mengatakan, keberadaan lamer bertenaga surya yang berada di Jl persimpangan terusan pemuda saat ini sudah difungsikan. Hanya dalam penanganan dan perawatan lamer tersebut, pihaknya tidak diberikan kewenangan apapun, karena memang pengelolanya langsung oleh Pemerintah Pusat.

“Lampu merah bertenaga surya adalah urusan pusat, kami hanya menerima pemasanganya saja. Selebihnya pihak pusat yang berwenang langsung. Yang jelas ini proyek nasional, setiap daerah hanya mendapatkan satu titik. Tetapi kami berharap agar kedepan jumlahnya bisa bertambah,” jelasnya ketika dihubungi Moncir diruang kerjanya baru-baru ini.

Ditambahkan Kabid Lalu Lintas, Yudi Wahono, lampu merah bertenaga surya saat ini sudah difungsikan secara maksimal. Saat ini pun lamer tersebut sudah bisa dinikmati sebagai teknologi baru. Disamping lebih efektif juga Dishub tidak lagi harus menyediakan anggaran untuk pembayaran listrik ke pihak PLN. “yang jelas penggunaan lamer di wilayah cirebon bukanlah yang pertama, karena sebelumnya lampu merah bertenaga matahari ini sudah terpasang di jalur nasional seperti di daerah Arjawinangun”, terangnya.

Sedang kelebihan lampu merah bertenaga surya ini sendiri, lanjutnya, memiliki penampang yang berfungsi untuk menyerap sinar matahari yang energinya kemudian ditampung dalam batrai kering dan menjadi sumber tenaga untuk menyalakan lampu. memang ini akan lebih praktis ketimbang lampu merah bertenaga listrik yang selama ini masih banyak dipergunakan bagi pengaturan lalu lintas.

Proyek pusat ini juga adalah bentuk kepedulian pemerintah pusat yang tengah mengembangkan teknologi lain peganti tenaga listrik. Teknoligi ini pun akan terus dikembangkan secara nasional. Untuk kota cirebon sendiri terdapat dua jalur nasional yakni mulai Jl Kedawung hingga perbatasan Jl. Mundu dan Jl Kerucuk masuk ke Jl Diponegoro, Samadikun, Cangkol hingga ke perbatasan Jl. Mundu.

“Teknologi ini tergolong canggih dan nilai harga barangnya sangat mahal dan ini adalah proyek pusat bukan daerah. Cirebon hanya diberikan sebatas laporan-laporan ke pusat jika terdapat kerusakan pada lamer ini. Kedepan kami pun akan mengusulkan agar jumlah pemasangannya ditambahkan, karena sistem operasinya yang hemat energi dan tidak serumit seperti lampu merah listrik,” ujar yudi kepada moncir. (nrd)
http://moncir.blogspot.com

Senin, 08 Maret 2010

Lesunya Produksi Kerajinan Rotan di Cirebon

http://portalcirebon.blogspot.com
Dari data statistik yang diperoleh Portal Cirebon menyebutkan hampir 90 % industri rotan di Tegal Wangi, Plumbon, Cirebon gulung tikar. Padahal dulunya di Tegal Wangi, Plumbon, Cirebon ini menjadi kiblat industri rotan nasional.

Ketika Portal Cirebon mempertanyakan perihal ini pada para pelaku bisnis ini, sebagian pengusaha rotan mengatakan, keadaan ini disebabkan oleh terbitnya Surat Keputusan (SK) Menteri Perdagangan (MENPERDAG) No 12/2005 yang isinya memberlakukan ekspor bahan baku rotan.

Turunnya produksi pun berpengaruh pada ekspor rotan Cirebon. Data Asosiasi Mebeuleur Indonesia (Asmindo) cabang Cirebon menunjukkan sebelumnya ekspor berbagai produk kerajinan Rotan Cirebon mencapai 3.500 Kontainer per bulan. Saat ini maksimalnya 500 kontainer per bulan.

Kondisi itu diiringi melonjaknya angka pengangguran di Plumbon dan sekitarnya. Lebih dari satu juta orang yang dulunya mengantungkan hidupnya pada industri rotan, saat ini menganggur.

Portal Cirebon hanya bisa berharap semoga industri ini kembali menggeliat hingga sekian juta masyarakat Cirebon yang mengandalkan periuk nasinya dari usaha kerajinan ini bisa kembali mengepul...

Semoga........
http://portalcirebon.blogspot.com

Kamis, 11 Februari 2010

Ani Yudhoyono Bersilaturahmi dengan Perajin Batik

Ani Yudhoyono dan Herawatie Budhiono sedang belajar membatik.

Ibu Negara, Ani Yudhoyono dan Herawatie Budhiono beserta istri para menteri Kabinet Pembangunan II dan para duta besar negara tetangga bersilaturahmi dengan para perajin batik se-Jawa Barat, Selasa (9/2) di halaman Gedung Negara Cirebon. Dalam kesempatan itu Ibu Negara mengimbau masyarakat untuk mencintai dan melestarikan batik sebagai kekayaan budaya bangsa. "Aku ingin masih bisa melihat batik hingga 1000 tahun lagi," katanya. Foto: Opic

http://www.beritacerbon.com/beritafoto/2010-02/ani-yudhoyono-bersilaturahmi-dengan-para-perajin-batik-se-jawa-barat/0


Ani Yudhoyono Kunjungi Perajin Batik di Cirebon

Ani Yudhoyono Kunjungi Perajin Batik di Cirebon
Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono menyerahkan secara simbolis bantuan kompor gas kepada Ketua Tim Penggerak PKK, Netty Prasetiyani Heryawan (kiri) di Cirebon, Jawa Barat, Selasa (9/2). Ibu Negara memberikan bantuan kompor gas untuk pengrajin batik. (ANTARA/Rumgapres-Cahyo)

Jakarta (ANTARA News) - Ani Yudhoyono melakukan kunjungan kerja satu hari ke perajin batik Cirebon, Jawa Barat bersama para istri menteri Kabinet Indonesia Bersatu serta pemimpin redaksi media massa majalah khusus wanita yang seluruhnya diwajibkan mengenakan pakaian batik.

Perjalanan Ani yang tanpa didampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Cirebon menggunakan kereta api luar biasa dari Stasiun Gambir, Jakarta, Selasa, pada pukul 07.00 WIB.

Rombongan dijadwalkan tiba pada pukul 10.00 WIB di Cirebon dan langsung menghadiri acara pelestarian batik Indonesia sebagai warisan budaya bangsa.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan serta Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik dijadwalkan memberikan sambutan pada acara itu, dilanjuti dengan pengarahan dari Ani Yudhoyono.

Ani pada acara itu juga direncanakan memberikan bantuan berupa kompor gas, serta meninjau peragaan membatik dan gerai yayasan batik Jawa Barat.

Setelah itu, rombongan dijadwalkan mengunjungi Desa Batik Trusmi. Kemudian, rombongan kembali ke Jakarta menggunakan kereta api.

Pada hari yang sama, Presiden Yudhoyono juga melakukan kunjungan kerja satu hari tanpa menginap ke Palembang, Sumatera Selatan, untuk menghadiri peringatan Hari Pers Nasional. (D013/K004)

Selasa, 9 Pebruari 2010 06:26 WIB COPYRIGHT © 2010
Dikutip dari www.antara.co.id.



Minggu, 07 Februari 2010

“The Mask of the Maestro” Mengetengahkan Tari Topeng yang Terpinggirkan

Oleh
Ida Rosdalina

Jakarta – Awal Agustus 2008 sebuah pertunjukan tari tradisional dirancang untuk digelar di sebuah ballroom hotel mewah di Jakarta.

Ini bukan sebuah pemandangan lazim karena biasanya tari-tarian tradisi hanyalah tontonan dalam gedung-gedung usang yang sudah ditinggal penikmatnya.
Namun kali ini, Gelar bersama Bimasena mengangkat pertunjukan tradisi menjadi tontonan yang berkelas. Harga tiket tidak tanggung-tanggung, Rp 1 juta. Bagi Bimasena, sebuah perkumpulan masyarakat pertambangan dan energi, mementaskan pertunjukan tradisi semacam ini bukan hal baru.
“The Mask sesuai dengan program budaya kami, yaitu mengangkat seniman-seniman Indonesia dan membantu melestarikan budaya Indonesia untuk anak-cucu,” kata Tini Hadju-Malayu, Assistant Managing Director Bimasena.
Pementasan yang diproduseri oleh Bram dan Kumoratih Kushardjanto ini akan menampilkan Topeng Kedok Tiga Betawi, Topeng Pajegan dari Bali, dan Wayang Topeng Yogyakarta.
Mengapa Topeng? Menurut Deddy Luthan, seorang koreografer yang menjadi penata artistik pertunjukan ini, topeng adalah sebuah fenomena dalam kesenian Indonesia. “Hampir 80 persen Kesenian di Indonesia menggunakan topeng sebagai sarana berekspresi,” kata Deddy, beberapa waktu lalu.
Topeng merupakan hasil budaya yang sama tuanya dengan pembuatnya. Fungsi topeng pun bermacam-macam. Di Jawa Barat, ada topeng yang terbuat dari emas untuk menutupi wajah orang yang meninggal. Kepopuleran topeng dalam budaya Indonesia memiliki berbagai alasan. Topeng menampilkan karakter, sebagai tiruan wajah. “Topeng juga merupakan pemalsuan diri, di mana ketika menari topeng, orang tidak lagi mewakili diri sendiri, melainkan menjadi orang lain,” kata Deddy.
Tokoh dalam topeng tidak terbatas pada manusia, melainkan juga dari alam lain. Untuk menandai sifat karakter yang dibawakannya, topeng dibuat dalam berbagai warna.
Dalam beberapa kebudayaan, topeng memiliki fungsi keagamaan. Dalam fungsinya ini, topeng mewujudkan konsep-konsep agama, berhubungan dengan kekuatan gaib tertentu.
Dari fungsi keagamaan, fungsi topeng bergeser menjadi estetika karena kehidupan berubah. Topeng hampir punah karena ada perubahan-perubahan dalam masyarakat. Tari-tarian Topeng kini lebih bersifat profan. “Ketika menjadi hiburan, yang lebih ditekankan adalah bagaimana pertunjukannya. Bagaimana gerak, musik dan bentuknya,” kata Deddy.
Namun, seperti pertunjukan tradisi lain, topeng pun mengalami pasang surut. Pertunjukan topeng saat ini ada di titik rawan. Penyebabnya, sudah banyak maestro tari topeng yang meninggal dan tidak banyak orang yang meneruskannya.

Unsur Serapan
Salah satu yang akan tampil dalam pertunjukan bertajuk “The Mask of the Maestro” adalah Kartini. Seniman ini akan menampilkan Tari Kedok Tiga Betawi. Dalam kebudayaan Betawi, topeng tidak menjadi bagian dari keagamaan. “Betawi tidak punya tradisi topeng,” kata Kartini.
Namun, nama topeng digunakan untuk menyebut teater Betawi yang memiliki alur cerita.
Tari Kedok Tiga ini diciptakan oleh Mak Kinong, nenek Kartini, pada tahun 1930-an. Karena tidak memiliki tradisi, tari topeng atau kedok (dalam bahasa Betawi) menyerap banyak unsur topeng dari Cirebon.
Ada tiga karakter dalam tiga warna dalam tarian ini. Topeng putih melambangkan kelembutan sekaligus sebagai tarian untuk menyambut penonton. Kemudian, penari menggunakan topeng berwarna merah muda dengan gerakan yang lebih atraktif dan karakter yang beringas dan kasar diwakili dengan topeng berwarna merah. Semuanya ditampilkan oleh satu penari.
Namun, baru tiga generasi, tari ini sudah mulai langka. Menurut Kartini, tarian ini biasanya dipanggungkan dalam acara khitanan, upacara haul, dan penolak bala. “Ini pertama kali saya tampil di gedung yang mewah,” kata Kartini sambil tertawa.
Selain Tari Kedok Tiga Betawi, dua tari lainnya berasal dari Yogyakarta dan Bali. Wayang Topeng Gaya Yogyakarta ditarikan oleh Lantip Kuswala Daya. Seperti juga tari Kedok Tiga Betawi, wayang topeng asal Yogyakarta ini tidak berkaitan dengan fungsi keagamaan. Tari Topeng Klana klasik ini diciptakan dari kalangan Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Namun, beberapa master tari Yogyakarta, seperti Bagong Kussudiardjo dan Romo Sas telah membuat perubahan pada gerak dan tempo sehingga lebih ekspresif dan lebih cepat.
Sayangnya, kepopuleran Tari Topeng Klana Yogyakarta ini kalah dibanding jenis Tari Topeng Klana dari Surakarta.
Dari Bali, akan tampil maestro tari I Made Djimat dengan Topeng Pajegan. Di antara ketiga tari topeng yang akan dipanggungkan, Topeng Pajegan satu-satunya yang memiliki fungsi keagamaan.
Tari ini adalah ritual yang mengiringi upacara keagamaan Hindu dalam budaya Bali yang diakhiri dengan Topeng Sidakarya sebagai puncak dari ritual itu. Oleh karena itu, penari Topeng Pajegan adalah orang yang memiliki tingkatan spiritual tinggi. Dalam tarian ini, penari harus mampu menarikan peran apa saja yang diwakili dalam berbagai bentuk topeng.

Rasinah Hidupi Tari Topeng Indramayu

Rasinah, sumber foto http://ejavanica.blogspot.com(etnofilm) ~ Mimi Rasinah adalah seorang Penari Topeng Indramayu ternama. Bahkan, namanya pun sudah dimasukkan dalam kategori maestro. Perempuan berusia 80 tahun itu telah memperlihatkan dedikasi yang begitu tinggi terhadap kesenian tradisional itu. Ia bukan hanya menari dengan topeng-topeng yang selalu berganti di wajahnya. Tapi, ia juga menyebarkan inspirasi bagi orang lain untuk mencintai Tari Topeng Indramayu.

Rasinah lahir di Desa Pekandangan, Indramayu, Jawa Barat. Kedua orangtuanya juga seniman. Karena itu, darah seni pun menucur deras di dalam nadinya. Sejak kecil ia telah diajari menari lengkap dengan aturan-aturan “mistis”nya. Bahkan, ia pun telah “diamenkan” di panggung-panggung hajatan (bebarang), untuk menegaskan suratan hidupnya yang seniman.

Masa kanak-kanak dan remaja Rasinah hanyalah tarian. Gejolak hidup Rasinah muda hanyalah panggung-panggung hajatan, lengkap dengan suara tetabuhannya. Sehingga, di luar Tari Topeng Indramayu, sungguh ia bukanlah apa-apa. Seperti pelantun lagu Gambang Kromong klasik, Masnah, ia pun cerminan “anak wayang” yang sepanjang hidupnya lebih diberikan untuk panggung dan penonton. Ia sama sekali tidak mengenal hal lain di luar dunia tersebut. Sekolah atau menikmati keceriaan seperti kaum remaja sebayanya.

rasinah, sumber foto kapasmerahKeteguhan Rasinah untuk terus konsisten di jalurnya bukan tidak dihadang masalah. Pergeseran selera masyarakat dari kesenian tradisional ke kesenian yang lebih modern membuat Rasinah – dan seniman tradisional pada umumnya – terkena imbas besar. Mereka kehilangan panggung-panggung hajatan, lahan untuk mengekspresikan kesenimanannya, dan tentu saja, nafkah!

Masa-masa sulit seperti itu dirasakan benar oleh Rasinah. Terlebih setelah ayah dan ibunya meninggal. Ia memang anak tunggal. Sehingga, ia harus menggantungkan hidupnya pada sang suami. Ia nyaris tidak memiliki kesempatan untuk menari. Lantaran tidak ada lagi yang mengundangnya.

Dalam kesendirian dan keterasingan, ia hanya memasrahkan hidupnya pada Yang Mahaperkasa. Ia tidak berani lagi menghitung-hitung suratan nasib di depannya. Karena, ia sadar bahwa ia hanyalah seniman tradisional, plus dengan kemampuan yang terbatas. Untuk beralih pada sumber penghidupan yang lain, ia juga merasa tidak bisa. Maka, ia pun hanya bisa menari di rumahnya sendiri. Kerap, ia menari ditemani cucunya, Aerli. Dan, dengan sisa gendang, saron, dan gong, dari ayahnya, ia juga coba ajarkan pada cucunya yang Edi. Saat itu, ia mencoba menitiskan kemampuan berkeniannya kepada kedua cucunya.

Cara itu ditempuh oleh Rasinah, agar ia tetap memiliki semangat untuk menari. Di benaknya hanya terlintas satu niat, agar hidup yang pahit itu bisa dijalani dengan keceriaan sambil membagi-baginya kepada orang terdekat. Tari Topeng Indramayu adalah satu-satunya harta karun yang dimilikinya. Sehingga, hanya dengan “benda” itulah ia bisa mewariskannya kepada keturunannya.

Bangunan semangat untuk bertahan dan berbagi, serta kepasrahan untuk menyerahkan segala-galanya kepada Dzat Yang Mahasempurna, akhirnya berbuah kebahagiaan. Ketabahan dan kegigihan untuk terus berkesenian secara bersahaja membuahkan perhatian pihak lain. Ia percaya bahwa orang yang tiba-tiba memedulikan dirinya dan Tari Topeng Indramayunya adalah tangan-tangan Tuhan. Ya, cerminan sifat rahman dan rahimNya.

Minat kalangan pemerhati kesenian tersebut yang bertekad merevitalisasi kesenian Tari Topeng Indramayu menebarkan manisnya juga untuk Rasinah. Ia pun diminta untuk menari di berbagai tempat. Bukan sekedar panggung-panggung hajatan di kampung-kampung. Tapi, termasuk juga pentas-pentas di gedung-gedung kesenian di kota besar, di dalam dan luar negeri. Luar biasa!

Gubuk yang tadinya nyaris runtuh karena tidak pernah mendapat perhatian, perlahan-lahan ia bangun kembali. Bahkan, ia pun berhasil membangun sanggar sederhana di salah satu sudut rumahnya. Teman berlatihnya pun bukan hanya Aerli, cucunya. Tapi, anak-anak lain berdatangan untuk meminta juga “harta karun” yang dimiliknya. Seiring dengan itu, panggilan-panggilan untuk menari pun tidak pernah lagi berhenti.

Maka, Rasinah yang oleh murid-muridnya dipanggil Mimi (nenek) telah mendapati kegemilangan nan tiara di hari tuanya. Ia bisa tersenyum bahagia saat meyakini bahwa keteguhannya mendalami Tari Topeng Indramayu membuahkan panen besar. Ia bisa tertawa gembira saat mensyukuri bahwa kesungguhan mengawal kesenian tradisional itu memberikan manfaat tak terhingga. Sehingga, ia pun bisa melupakan kepahitan dan rintangan yang selama menempa perjalanan berkesenianannya dan kehidupan nyatanya.

Kita bisa mengatakan apa yang terjadi pada Mimi Rasinah karena keterpaksaan. Ia terpaksa bertahan dengan kemiskinan dan kepapaannya sebagai seniman tradisional, karena ia tidak memiliki kemampuan lain. Ia terus menekenuni Tari Topeng Indramayu karena tidak ada pilihan lain. Pendapat itu tidak salah. Sama sekali tidak salah.
Tapi, fakta juga berbicara, dengan kemiskinan dan kepapaan itu justru ia terus menari. Padahal ia tidak lagi mendapat panggilan dan memiliki panggung tetap. Ia menari untuk dirinya sendiri dan di “panggung” yang teramat sempit di dalam gubuknya. Ia juga menari sambil membagi “kesenimannya” pada orang terdekat. Kedua hal itu merupakan pertanda kesungguhan untuk mempertahankan hidup dan terus berbagi.

Rasinah laksana setangkai suket (rumput). Suket tidak menyesali kemiskinan, kepapaan, dan kenyataan diri, yang memang berada di bawah. Ia terus bersemangat, bersungguh-sungguh, dan tabah, untuk memulai mengisi pagi. Bahkan, dengan “panggung” yang teramat sederhana, ia terus “berkesenian”. Dan, dengan suka-cita, rona hijau ditebarkan ke sekelilingnya. Ia bertahan dan memberi. Sebuah ajaran cinta terdalam, yang tidak lagi berpikir tentang keberadaan diri dan imbalan atas penebaran cinta itu sendiri.

Yang dilakukan Rasinah saat persoalan-persoalan hidup memburunya tanpa henti adalah memasrahkannya kepada Yang Mahamemberi. Keluh-kesah, penyesalan, putus asa, apatis menghadapi hidup, justru hanya akan menyurut semangat bertahan dan kesungguhan memberi. Sehingga, tanpa proklamasi dan pengumuman yang berlebih, ia memang menunjukkan kebangkitannya sebagai khalifah. Tanpa berpikir tentang hakekat hijrah nurani yang sering diungkap oleh Kalangan Sufi, ia justru telah melakukannya dengan istiqomah.

Kebangkitan itu sendiri tidak identik dengan pelarian atas kepungan masalah atau kemadekan karier. Tapi, “pribadi nan tercerahkan” adalah pilihan lain dari hidup ini. Siapa pun boleh hidup dengan pilihan apanya masing-masing. Entah terus menjunjungi semangat mimpi, keinginan, cita-cita, dan ambisi, untuk meraih kebahagiaan duniawi. Atau, mencoba meraih target kebahagiaan di alam lain. Terserah saja.

Yang pasti, Rasinah telah memperlihatkan contoh menarik, untuk memilih pilihan yang lain. Sebuah target, yang bisa jadi, tidak lazim dan tidak popular. Tapi, bila hal itu bisa menenangkan batin, sekaligus mampu membangkitkan semangat, kesungguhan, ketekunan, dan kegigihan, untuk mendapati hidup itu sendiri, serta menikmatinya dengan penuh kemenangan.

Di usia senjanya sekarang, Rasinah nyaris tak bisa lagi menggerakkan tangan, menghentakkan kaki, dan memancangkan topeng di wajahnya. Bahkan, serangan stroke memaksanya untuk bolak-balik ke rumahsakit. Tragisnya, karena ketiadaan biaya, keluarganya sampai berkeinginan menjual topeng-topengnya. Satu-satunya keperkasaan yang masih ditorehkan seorang Rasinah, di tengah ketidakberdayaannya, ialah ketetapan hatinya memaksakan diri untuk mengawasi murid-muridnya setiap kali berlatih menari. Subhanallah.

“Yang membuat kami terharu dan yang paling berkesan, ia pernah mengatakan bahwa ia akan mati di atas panggung,” tutur salah seorang cucunya Edi Suryadi dalam film dokumenter “dua Perempuan” produksi Matahati Productions, 2007, yang mengangkat cerita tentang Rasinah dan Masnah, penyanyi Gambang Kromong terkemuka. (sumber: etnofilm.wordpress.com | Mei 2008)

Maestro Tari Topeng Menderita Lumpuh

Cirebon (ANTARA News) - Mimi Rasinah (80), mestro topeng Cirebon, sudah lebih dua tahun mengalami lumpuh sebelah tubuhnya akibat stroke dan kini hanya terbaring lemah di rumahnya di Desa Pekandangan, Kecamatan Indramayu.

"Mimi Rasinah sangat perlu uluran tangan dermawan karena sudah tidak punya apa-apa lagi. Satu-satunya yang bisa dilakukan untuk dapat uang adalah dengan melelang topeng dan benda-benda pusaka milik Mimi," kata Ade Jayana (27), suami Erli Rasiah (22), cucu Mimi Rasinah kepada wartawan di Indramayu, Selasa.

Ia mengungkapkan, Mimi menghabiskan hidupnya demi pengembangan tari topeng, bahkan saat terkena stroke pertama Desember tahun 2006, juga disebebkan karena kelelahan setelah pulang mengajar tari topeng di salah satu SMA di Indramayu.

"Karena kekelahan, Mimi terjatuh setelah mengambil air wudlu. Sampai sekarang, sudah dua tahun hanya berbaring saja," kata Ade, lulusan STSI Bandung.

Selanjutnya Erli menjelaskan, saat ini dia meneruskan kegiatan latihan tari topeng di sanggar tari "Mimi Rasinah" di rumahnya di Ds Pekandangan, Kec Indramayu.

"Mimi minta latihan tari terus jalan, dan banyak murid yang masih terus berlatih sampai sekarang," katanya.

Ia juga mengungkapkan, dirinya menunggu janji Pemkab Indramayu untuk mengganti biaya penampilan Grup Tari Topeng Mimi Rasinah di Gedung Sangkuriang Bandung pertengahan Januari 2008 lalu, karena saat itu biaya ditanggung oleh keluarganya.

"Saat itu saya tampil mewakili Indramayu. Biaya kami tanggung dulu, soalnya Pemkab janji akan mengganti biaya pementasan. Namun sampai sekarang belum ada kejelasan, padahal kami sangat membutuhkan uang," katanya.

Karena terdesak kebutuhan obat-obatan itu, dua topeng kebanggaan Mimi Rasinah yaitu Topeng Kelana Dursasana dan Topeng Kelana Gandrung, akan dilelang untuk mendapatkan uang.

"Mimi juga akan melelang dua uang benggol warisan dari ayahnya yang dulu sempat ditawar orang eropa sampai Rp 10 juta," katanya yang berharap ada uluran tangan dari Pemerintah.

Mimi rasinah sejak tahun 1990 sudah berkelana untuk pentas tari topeng ke luar negeri antara lain di Jepang, Belanda dan sejumlah negara lainnya.

Mimi Rasinah yang lahir di Indramayu 3 Februari 1930 itu sekarang merupakan satu-satunya maestro topeng yang tersisa setelah wafatnya Sawitri, maestro topeng asal Losari, Cirebon, tahun 1999.

Sejak kecil Mimi Rasinah sudah menggeluti tari topeng yang diajarkan oleh ayahnya, dan keseriusan Mimi Rasinah dalam menggeluti kesenian ini dibuktikan dengan profesinya sebagai penari topeng yang tetap mempertahankan tradisionalitas, sehingga banyak yang menyebutnya klasik.

Di seputar Cirebon, karakter tari topeng mempunyai macam dan bentuknya, seperti wilayah Timur Cirebon tepatnya di Desa Astanalanggar dengan tokohnya Dewi dan Sawitri yang dua-duanya sudah wafat.

Di sebelah Barat terdapat di Palimanan, Cirebon dengan tokohnya Wentar, Koncar, Ami, Dasih dan Suji. Juga di Desa Slangit, Klangenan, Kabupaten Cirebon ada juga maestro yang dulu berjaya antara lain Sutejo, Suparta, Sujaya, Sujana, dan Keni.

Saat ini tari topeng tidak lagi menjadi seni pertunjukan pada acara hajatan seperti pernikahan atau sunatan karena perannya sudah tergeser oleh organ tunggal yang dianggap lebih moderen.(*)

Goa Sunyaragi, Wisata Kultural Bercorak Hindu, Islam, dan Eropa

INILAH taman indah lambang kebesaran masa silam. Meskipun telah terbenam perjalanan zaman, Goa Sunyaragi yang dibangun awal abad ke-18 oleh Kerajaan Islam Kasepuhan Cirebon masih memperlihatkan keindahannya sebagai maha karya arsitektur tempo dulu. Bangunan ini menggunakan bongkahan batu karang dan batu bata sebagai sandaran atau penyangga, dan pada puncak-puncak bangunan ada bangunan limasan dari bahan kayu.Goa Sunyaragi merupakan kompleks bangunan yang semua ruang-ruangnya dibentuk menyerupai goa. Atau lebih tepatnya merupakan kompleks goa-goa buatan yang dihubungkan oleh lorong atau jalan-jalan setapak yang berliku indah. Menuju ke tempat wisata yang terletak di Kota Cirebon (Jabar) ini tidaklah sulit. Dari terminal induk Kota Cirebon obyek wisata sejarah budaya ini, langsung naik angkutan kota sampai di goa ini.

Bangunan Sunyaragi sebagaimana diungkapkan peneliti dari Balai Arkeologi Bandung W Anwar Falah, sebenarnya merupakan kompleks bangunan taman sari yang berfungsi sebagai tempat peristirahatan dan menyepi diri bagi keluarga Raja Kasepuhan Cirebon pada awal-awal abad ke-18. Sunyaragi terdiri dari dua suku kata sunya berarti sunyi, sepi,dan ragi berarti raga. Nama ini menurut sumber tertulis memang nama sebenarnya, atau nama asli pemberian pembuatnya.

Karena goa ini berfungsi ganda, yaitu sebagai tempat istirahat dan tempat menyepi, maka bentuk arsitekturnya pun mengarah pada dua fungsi itu. Berkesan mistis, tetapi juga indah, artistik, dan segar, dan sudah pasti dulunya penuh bunga-bunga. Atau dalam istilah dunia arkeologi ada dua sifat bangunan di Sunyaragi yaitu bangunan profan yang mencerminkan sebagai tempat kesenangan duniawi para Sultan Kasepuhan Cirebon. Sedang unsur bangunan yang kedua adalah bangunan bersifat sakral yang berkait dengan perilaku keagamaan para sultan.

Kesan profan itu bisa dilihat pada halaman utama. Begitu memasuki bangunan Sunyaragi yang menggambarkan adanya area pertamanan. Di halaman utama ini terdapat ruang-ruang kosong yang menyebar di sana-sini, dan hiasan-hisan batu karang yang variatif. Pintu gerbang masuk bangunan yang
awal pembuatannya diperkirakan pada masa pemerintahan Pangeran Aria Cirebon (1697-1768) ini dibuat bermotif bentar dari bahan terakota (bata). Hampir setiap pintu masuk di bangunan itu memakai bangunan berundak-undak (bentar) yang berciri Hinduistik. Ciri Hinduistik juga terlihat adanya bentuk makara (raksasa) di atas pintu dan jaladwara (talang air di sudut-sudut bangunan) dan bangunan kayu bentuk joglo.

Bangunan Sunyaragi juga diwarnai adanya unsur budaya Cina atau gaya Tiongkok kuno, seperti ukiran atau relief yang bermotif kembang kuningan, bunga persik, bunga matahari, serta teratai. Ciri khas Tiongkok kuno juga terlihat adanya tempelan di dinding-dinding bangunan piring-piring atau panil-panil keramik Cina. Yatna Satriana dan kawan-kawan dalam bukunya Kesejarahan dan Nilai Arsitektur Sunyaragi menyatakan, adanya unsur Cina dalam bangunan itu menjadi wajar, karena banyak orang-orang Cina yang memberikan bantuan atas pembangunan Sunyaragi. Pemberi bantuan ini adalah para pengikut Putri Cina istri Syekh Syarif Hidayattullah atau Sunan Gunungjati.

Sebagai bangunan yang dibangun Kerajaan Kasepuhan Cirebon yang memang menobatkan diri sebagai kerajaan Islam, sangat wajar unsur Islam juga melekat dalam kompleks bangunan seluas 1,5 hektar ini, khususnya pengaruh Timur Tengah. Di antaranya adanya relung-relung pada dinding beberapa bangunan, tanda-tanda kiblat pada tiap-tiap tempat shalat. Di samping itu juga ada bangunan-bangunan pawudlon (tempat wudu). Ada bangunan yang disebut bangsal Jinem yang jika dilihat dari seluruh penjuru mata angin mirip Ka'bah.

Bangunan Goa Arga Jumut memiliki unsur kuat khas arsitektur Eropa. Misalnya jendela bagian atas melengkung dan berjari-jari, pintunya tinggi, dan langit-langitnya terbuat dari kayu, dan lubang anginnya berbentuk lingkaran, dan tiang bangunan terbuat dari semen cor berbentuk kolom menunjukkan pengaruh arsitektur Eropa.

Melihat Sunyaragi, wisatawan akan diajak masuk dalam suasana kultur Hindu, Islam, Cina, dan Eropa. Sebuah gambaran betapa luasnya pergaulan raja-raja Cirebon di masa itu. Kita akan menikmati sebuah silang kultur tanpa memperhatikan agama.

***

MESKIPUN bangunan ini masih tampak utuh, namun siapa yang mengawali pembangunan Sunyaragi dan kapan dimulainya pembangunan, masih belum jelas betul. Arkeolog dari Balai Arkeologi Bandung W Anwar Falah yang meneliti bangunan Sunyaragi mencatat adanya beberapa fakta. Berbagai data tertulis ataupun data lisan menyebutkan pembangunan Sunyaragi berkisar antara awal abad ke-18 sampai pertengahan abad ke-18.

Babad Cirebon menerangkan pendirian Sunyaragi diperkirakan pada tahun Jawa 1666 atau 1741 Masehi. Babad Cirebon itu tidak menyebutkan proses pendirian Sunyaragi, namun menyebutkan masa pembangunan Sunyaragi pada pemerintahan Pangeran Aria Cirebon (1697-1768). Dari kumpulan arsip Hindia Belanda, sejarawan Moisbergen menyebutkan, Sunyaragi dibangun tahun 1703 oleh Pangeran Aria Cirebon yang dibantu arsitektur dari Cina. Keraton Kasepuhan juga berpendapat Sunyaragi dibangun Pangeran Aria Cirebon. Namun, pihak Keraton Kasepuhan menjelaskan berdasarkan candra sengkala dalam bentuk relief garuda dililit ular yang menempel di salah satu bangunan Sunyaragi, yang menunjuk angka tahun 1704. Dari sinilah Anwar Falah menyimpulkan pembangunan Sunyaragi dilakukan bertahap, mulai awal abad ke-18 sampai pertengahan abad ke-18.

Menurut sumber dari Keraton Kasepuhan, bangunan Sunyaragi paling akhir digunakan oleh Sultan Sepuh Safiudin (1776-1784) sebagai tempat persembunyian untuk menyusun kekuatan melawan kolonial Belanda. Sultan Safiudin tewas dalam sebuah serangan yang dilakukan Belanda, dan bangunan Sunyaragi sempat rusak saat Kasepuhan dipegang Pangeran Adiwijaya pada tahun 1852.

Sunyaragi praktis masih utuh, sampai sekarang. Namun, peninggalan sejarah yang kini dijadikan obyek wisata di Cirebon ini sayangnya tak dirawat. Alang-alang tumbuh meninggi memenuhi jalan-jalan di seputar obyek wisata ini. Taman Sari Sunyaragi meskipun lebih besar dari Taman Sari Keraton Yogyakarta, tetapi sulit untuk renovasi total karena sebagian besar sudah menjadi permukiman penduduk. Sunyaragi masih utuh, masih layak dikembangkan seperti Candi Borobudur dan lingkungan sekitarnya, misalnya. Aset ini sayang jika disia-siakan. (Th Pudjo Widijanto)

Kompas/thomas pudjo widiyanto
MEGA MENDUNG - Pintu gerbang masuk dari sisi selatan bangunan Sunyaragi di samping dilengkapi pintu kayu, di atas pintu itu terdapat relung-relung yang membentuk relief megamendung, sebuah budaya khas Cina yang kini menjadi identitas karya relief atau batik Cirebon.

Kompas/thomas pudjo widiyanto
PUNCAK - Salah satu bangunan kompleks kuno Sunyaragi yang memiliki puncak bangunan joglo limasan, khas bangunan Jawa.

Kompas/thomas pudjo widiyanto
PERTITAAN - Bangunan Sunyaragi dilengkapi bangunan pertirtaan (kolam) yang juga terbuat dari terakota.

Kompas/thomas pudjo widiyanto
BENTAR - Pintu gerbang masuk ke bangunan Sunyaragi adalah bangunan berbentuk bentar terbuat dari terakota yang berciri khas Hindu.
http://www2.kompas.com

Nasib Gedung Kuno - Peran Serta Masyarakat Masih Sangat Kurang

Cirebon, Kompas - Hingga kini, pemeliharaan dan perawatan gedung- gedung tua yang ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya atau BCB terkendala masalah klasik, yakni keterbatasan anggaran.

Untuk itu, perlu partisipasi masyarakat luas guna menjaga kelestarian bangunan-bangunan yang didirikan ratusan tahun lalu itu. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Cirebon Moch Hanafiah mengatakan, pelestarian BCB seharusnya tidak hanya menjadi beban pemerintah, tetapi juga melibatkan masyarakat. “Kalau ada investor yang mau mengelola bangunan-bangunan bersejarah itu, kami akan menerima dengan tangan terbuka,” ujar Hanafiah, Kamis (20/4). Masalahnya, kata Hanafiah, investor pasti tidak mau hanya mengeluarkan uang, tetapi juga memiliki tujuan keuntungan, yakni dengan peningkatan jumlah pengunjung.

Padahal, untuk meningkatkan jumlah pengunjung perlu peningkatan daya tarik. Untuk itu, sangat mungkin diperlukan perubahan, yakni penambahan fasilitas atau pembongkaran di bagian tertentu. “Ini yang sulit, karena sebagai BCB, ia harus tetap seperti aslinya,” kata Hanafiah, Kamis (20/4).

Kepala Seksi Bina Nilai Tradisional Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Cirebon Adin Imanuddin mengatakan, dulu pernah ada sebuah hotel yang ingin ikut serta dalam membiayai perawatan sebuah keraton sebab keraton itu dimasukkan dalam paket wisatanya. Namun, upaya itu batal terlaksana.

Adin menambahkan, perubahan pada BCB untuk menarik jumlah pengunjung bisa dilaksanakan dengan metode zonasi. “Misalnya saja dibangun tempat bermain anak-anak yang letaknya di dekat BCB,” kata Adin. Sebagai kota tua, banyak bangunan tua yang berdiri di Kota Cirebon. Surat Keputusan Wali Kota Cirebon Nomor 19 Tahun 2001 mengenai Perlindungan dan Pelestarian Kawasan Bangunan Cagar Budaya di Kota Cirebon menetapkan 52 bangunan tua sebagai BCB.

Bangunan itu dibagi dalam tiga klasifikasi tingkat perlindungan, yakni sangat ketat, ketat, dan cukup ketat. Bangunan tua itu, antara lain Gedung Balaikota, Karesidenan, Masjid Al-Athyah, dan Klenteng Talang.

Masalahnya, untuk BCB sebanyak itu, tahun ini Pemerintah Kota Cirebon hanya menyediakan anggaran sekitar Rp 150 juta. “Ini pun sudah meningkat 150 persen dibanding tahun lalu yang hanya Rp 60 juta,” ujar Adin.

“Untuk bangunan yang masih digunakan, biaya pemeliharaan dan perawatan kita serahkan pada pemiliknya. Untuk bangunan yang tidak digunakan, ada biaya meski tidak bisa menutup keseluruhan yang diperlukan,” kata Adin.(LSD)

Sumber: Kompas, Jumat, 21 April 2006

Masjid Kasepuhan Cirebon, Kebesaran Masa Lalu

Ari Saputra - detikRamadan

Cirebon - Masjid itu terlihat kukuh. Pagar tembok setebal 40 cm dan setinggi 1,5 m mengelilingi rapat-rapat. Warna merah bata yang memulas sekujur tembok membuat makin berwibawa saja. Ya, pagar itu merupakan bagian dari Masjid Keraton Kasepuhan Cirebon, Masjid Sang Ciptarasa. Di dalam pagar yang menyerupai benteng itu, berdiri kukuh masjid yang berdiri sejak tahun 1478 lampau.

Masjid itu didirikan seiring dengan berdirinya Keraton Kasepuhan. Tak heran jarak antara masjid dan keraton hanya terpisah oleh alun-alun kecil seukuran lapangan bola. Menurut sejumlah pengusur masjid, keaslian masjid masih terjaga. Atap menggunakan genteng warna hitam tanah. Sementara dinding masjid menggunakan bata merah setebal 40 cm.

"Bangunan lama masjid hanya di bagian dalam ukuran 20x20 m," kata Salehudin (57), salah satu pengurus masjid Kasepuhan kepada detikcom, Selasa (9/9/2008). Sulit diterima bila bagian inti masjid merupkan tempat ibadah. Sebab, kokohnya dinding lebih menyiratkan benteng kecil tempat persembunyian.

Untuk memasukinya, hanya ada satu pintu utama yang berukuran normal. Selebihnya, pintu samping kiri dan kanan sangat mungil, hanya berukuran 1 m x 80 cm. Sehingga, perlu merunduk untuk memasuki bagian inti masjid. "Saat penjajah kolonial masih bercokol, masjid ini memang sempat menjadi salah satu persembunyian," imbuh Salehudin.

Ada berbagai versi mengenai awal dibangunnya masjid ini. Di antaranya, menurut catatan Keraton Kasepuhan, yang mengacu pada candrasengkala, masjid tersebut dibangun pada "waspada panembahe yuganing ratu". Kalimat ini bermakna 2241, alias 1422 Saka, sezaman dengan 1500 Masehi. Menurut Kretabhumi, dibangun pada 1489 Masehi. Pemimpin proyeknya Sunan Kalijaga. Ia melibatkan 500 tenaga kerja dari Cirebon, Demak, dan Majapahit.

Sunan Kalijaga tidak sendiri, ia dibantu Raden Sepat, arsitek dari Majapahit. Sepat adalah tawanan perang Demak-Majapahit, yang diboyong Sunan Gunung Jati, salah satu senopati Demak. Sepat merancang ruang utama masjid berbentuk bujur sangkar. Luasnya 400 meter persegi. Tempat pengimaman menghadap ke barat, miring 30 derajat arah barat laut. Arah ini diyakini warga sekitar masjid tepat menuju Masjidil Haram, Mekkah.

Masjid terbagi lima ruang, yaitu ruang utama, tiga serambi, dan ruang belakang. Ruang utama adalah bangunan masjid yang asli. Lantainya dari terakota tanah atau tembikar, berukuran 30 x 30 sentimeter. Serambi bagian selatan disebut bangsal prabayaksa, dalam bahasa Jawa kuno berarti ruang pertemuan.

Kini, setelah berabad-abad ditinggalkan sang pendiri, aura kebasaran masa lalu masih tercium kental. Kombinasi antara arsitektur masa lalu, pulasan warna yang berkarakter dan tata wilayah yang khas menunjukan daerah itu sebagai pusat kota pada masa lalu. Selebihnya, masjid di Jl Jagasatru tersebut sangat sejuk, teduh dan cocok untuk mendekatkan diri pada ilahi.
(Ari/tbs)
http://ramadan.detik.com

PELESTARIAN BANGUNAN KUNO

Antariksa

KELENTENG berusia 500 tahun di Cirebon terancam kelestariannya. Keindahan seni bangunannya yang khas, perpaduan antara ketrampilan para tukang setempat dan pimpinan pendirinya Muhammad Syafi’I (Tan Sam Tjay) di tahun 1450, sedang dalam proses penghancuran, demi sebuah rumah duka. Kemungkinan besar segera tinggal dalam kenangan (Kompas, 14 Oktober 1987). Nasib juga menimpa bangunan kuno yang digunakan sebagai asrama polisi di Jalan Ngemplak Surabaya, mulai dibongkar dan diratakan dengan tanah (Suara Indonesia, 8 Juni 1988).
Tentunya masih banyak lagi kejadian semacam itu yang terjadi di kota-kota besar lainnya di Indonesia, yang banyak meninggalkan warisan budaya bangunan kunonya. Kejadian tersebut terasa menyakitkan karena makin lama nilai sejarah sebuah kota akan terhapuskan oleh ulah sebuah perencanaan yang mengatasnamakan kepentingan masyarakat banyak. Tak lain tempat tersebut dibangun fasilitas umum berupa pusat perbelanjaan (super market).
Usaha pelestarian juga sudah dimulai untuk bangunan-bangunan yang mempunyai nilai sejarah besar. Di Jakarta seperti bangunan Masjid (Jami’ Al Mansyur, Jami’ Annawar, Jami’ Al Anshor, Jami’ Al Annawir, dan sebagainya), bangunan Gereja (Emmanuel, Sion, Tugu, dan sebagainya), bangunan Museum (Keramik dan Seni Rupa, Tekstil, Bahari, dan sebagainya). Yogyakarta dengan kawasan Keraton dan Benteng Vredenburg yang dibangun tahun 1701 sudah dipugar saat ini, kemudian Benteng Vastenburg di Surakarta, dan tak ketinggalan Cilacap menguak dengan diketemukannya Benteng Pendem bekas peninggalan Portugis mulai dipugar pula.
Kota Bandung yang penuh peninggalan arsitektur kolonial juga memberikan andil terbanyak di dalam pelestarian bangunan kunonya. Di sini dapat terlihat berbagai bentuk gaya arsitektur Belanda, Cina, Islam, bahkan sampai pada perpaduan Indonesia dan Eropa. Ini merupakan salah satu kekayaan yang tak terhingga nilainya. Bangunan-bangunan peninggalan kolonial seperti, kantor, bank, gereja, rumah tinggal, dan sebagainya. Semua merupakan karya arsitek Belanda yang muncul sekitar tahun 1920-an dikembangkan oleh Ir. Macline Pont, Ir. Thomas Karsten, Prof. CPW Schoemaker, J. Berger, Ed Cuypers, dan masih banyak lagi. Hanya Prof. CPW Schoemaker yang menonjolkan gaya Art Deco (gaya seni yang berkecamuk di Eropa sehabis Perang Dunia I, tahun 1920-an). Arsitek lain seperti J. Berger (gedung Sate), Macline Pont (gedung ITB), dan Ed Cuypers (Bank Indonesia) ketiganya mampu menampilkan gaya arsitektur untuk daerah tropis. Gaya khas ini mengacu pada perpaduan lokal-tradisional Indonesia dengan teknik konstruksi Barat, sehingga dijuluki Prof. Schoemaker sebagai Indo-Europeesche Architectuurstijl.
Memang sangat menarik apa yang berkembang pada saat ini, yaitu tentang suatu kesadaran akan sebuah warisan budaya. Pelestarian budaya terhadap bangunan kuno sudah menjadi kesadaran masyarakat. Apalagi pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan akhir Februari 1988 lalu mengeluarkan Keputusan No. 0128/M/1988 mengenai perlindungan sejumlah gedung sebagai cagar budaya. Berarti dengan adanya keputusan tersebut tentunya akan lebih memperkuat Monumenten Ordonansi Stab 1 No. 238 Tahun 1931.
Kalau ditelaah mempunyai pengertian yang sangat luas, tidak sekedar sebuah pelestarian, tetapi dapat pula dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan serta pengembangan ilmu pengetahuan di dalam membina bangsa. Dengan demikian secara tegas gedung-gedung yang termasuk cagar budaya itu tidak boleh dibongkar atau dirubah bentuknya, baik “living monument” (keraton, rumah adat, dan bangunan bersejarah) maupun “dead monument” candi-candi), tanpa seijin Dirjen Kebudayaan dalam hal ini Direktur Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala. Apabila kita bertolak dari berbagai manfaat dari nilai-nilai kehidupan masyarakat lampau yang terkandung dalam peninggalan sejarah bangunan maupun gedung kuno, maka suatu keharusan untuk memlihara dan melindungi terhadapnya. Dengan demikian aspek yang dikandung dalam peninggalan sejarah dari tanah air kita, dapat digambarkan atau diungkapkan kembali. Secara sederhana seperti dikatakan Kempers: “as the systimatic study of antiqueties as a means of reconstructing the past” (Herstel in Eigenwarde Monumentenzorg in Indonesie, Dewalburg Pers Zutphen, 1978).

Wajah Kota Berbudaya
Proses perjalanan sejarah telah membawa masing-masing kota menjadi keadaan yang sekarang ini, lalu bagaimana dengan kota Malang? Apakah nuansa yang khas masih ada, seperti kawasan alun-alun dengan kantor, bank, masjid, gereja dan penjara wanitanya. Atau kawasan Ijen dengan lingkungan perumahan yang khas peninggalan kolonial Belanda, ternyata tidak dapat bertahan lama. Perubahan terjadi begitu cepat tanpa terkendali, terutama bentuk arsitekturnya yang justru menjadi ciri khas kota Malang. Di sini penentu kebijakan mempunyai peran besar terhadap masalah ini, perlu adanya peraturan yang memberlakukan perubahan maupun pemugaran bangunan gedung maupun rumah tinggal, yang terdapat dalam kawasan yang dilindungi.
Kemudian untuk Penjara Wanita yang terdapat di alun-alun Malang dan sudah tidak berfungsi lagi, sebaiknya dapat dipertahankan dan dipugar lagi. Melalui upaya pelestarian ini, banyak manfaat yang akan didapat pertama menjadikan daya tarik wisatawan untuk mengunjungi dan melihatnya. Kedua sebagai sarana penelitian, pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan terutama mengenai sejarah dan bangunannya, ketiga rasa memiliki dari perjalanan sejarah bangsanya.
Seperti diungkapkan oleh JJA. Woorsaae seorang ahli hukum dari Universitas Kopenhagen Denmark, pada pertengahan abad ke-19 mengatakan, “bangsa besar adalah bangsa yang tidak hanya melihat masa kini dan masa mendatang, tetapi mau berpaling ke masa lampau untuk menyimak perjalanan yang telah dilaluinya.” Bahkan filosuf Aguste Comte, mengatakan: “Savoir Pour Prevoir”, yang diartikan sebagai, mempelajari masa lalu, melihat masa kini, untuk menentukan masa depan. Memang perlu kita sadari bahwa hasil pelestarian akan memberikan gambaran tentang perjalanan suatu bangsa, hakekat apa yang tersandang dari perjalanan itu, dan tentu saja identitas budaya bangsanya. Hal ini dimaksud agar wajah kota kelak dapat menceriterakan dan menyajikan kepada anak cucu kita, mengenai perjalanan sejarah bangsanya melalui bangunan atau gedungnya.
Kota Malang mungkin masih punya ciri lain dibanding dengan kota lainnya. Di sini orang akan menemukan bentuk dan gaya arsitektur, terutama arsitektur Belanda dengan sedikit bumbu perpaduan antara Indonesia dengan Eropa. Kekayaan ini sebenarnya merupakan kebanggaan yang tak ternilai harganya. Masih banyak sisa bangunan yang masih dapat dijadikan harga diri kota Malang, seperti kawasan Ijen dengan permukiman bergaya arsitektur kolonial membujur di sepanjang kiri dan kanan jalan. Permukiman di sekitar kawasan tersebut juga masih terdapat beberapa bangunan yang berciri khas arsitektur kolonial.
Namun tidak banyak disadari, oleh warga masyarakat maupun penentu kebijakan, sehingga bangunan-bangunan kuno dan bahkan antik banyak dianggap ketinggalan jaman yang sewaktu-waktu dapat terancam kehadirannya. Bangunan rumah tinggal yang berada di kawasan Ijen misalnya, perlahan tapi pasti mulai berubah karena selera pemiliknya. Atau karena dorongan kebutuhan untuk membangun yang terus meningkat. Perubahan yang terjadi harus dapat dilihat sejauh mana batas kewajarannya, apa hanya menata kembali wujud fisik luarnya, atau merubah bentuk dan strukturnya. Masalah inilah yang harus dipertanyakan, sejauh mana pemilik rumah tinggal tersebut diperbolehkan untuk mempertahankan atau melestarikan rumahnya. Semestinya tidak hanya bangunan kuno saja yang perlu untuk dilestarikan, tetapi juga wilayah kota yang dipertahankan sebagai cagar budaya, karena peninggalan-peninggalan arkeologi yang tersisa masih cukup banyak.
Kehendak untuk membangun dan memperluas kota sebaiknya dipertimbangkan masak-masak, karena dampak akan lingkungan pasti akan terjadi jika kita tidak hati-hati. Jika masalah di atas tidak dipikirkan secara benar, persoalan-persoalan semacam itu masih akan terus terasa, malah makin lama akan makin parah jika tidak direalisir secara bersama, antara penentu kebijakan kota dan masyarakat.
Keterlibatan dan peran serta masyarakat kota perlu untuk diikutsertakan dalam pelestarian ini, baik perencanaan, pelaksanaan maupun pemeliharaannya. Dengan demikian, tangung jawab akan rasa memiliki kota dan bangunan dapat dipikul bersama, dan akhirnya kota akan menjadi tumpuan hidup bersama. Seperti diungkapkan oleh kritikus Peter Blake, bahwa arsitektur masa depan adalah kota.
Sudah selayaknya kita harus realistis terhadap perkembangan sejarah sebuah kota yang di dalamnya juga terkandung masyarakat dan budayanya. Atau kita juga harus belajar dari kota lain yang sedang giat melaksanakan pelestarian. Kedua hal di atas dapat dijadikan tonggak, sebagai awal pemikiran untuk pengetrapan pelaksanaan nantinya. Kalau tidak dimulai dari sekarang, kebijakan mengenai perlindungan dan pelestarian bangunan kuno maupun kawasan yang dilindungi kan terdesk oleh lajunya pembangunan kota, terutama pembangunan fisik kota.
Untuk itu perlu juga ditawarkan alternatif lain sebagai bentuk pemecahan yang sangat berkaitan dengan lajunya perkembangan tadi, yaitu sektor pariwisata. Diharapkan dengan sektor ini, potensi kota akan terlihat dan tentu saja akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang berkunjung ke kota tersebut. Untuk melihat satu warisan budaya berupa bangunan kuno atau lingkungan mas lampau.Sebenarnya kota-kota di Indonesia saat ini sedang sibuk mencari identitas dirinya untuk meningkatkan martabatnya dipasaran pariwista. Bandung, Yogyakarta, Surakarta, Jakarta dan kota-kota lain sudah memiliki hal tersebut. Tak dapat disangkal lagi arsitektur yang dimiliki oleh kota-kota itu, tanpa disadari sudah lama menjadi investasi yang justru belum banyak dimanfaatkan.


Tulisan ini telah dimuat dalam harian Suara Indonesia Tanggal 23 Juli 1988
http://antariksaarticle.blogspot.com

Lima Abad Kraton Kanoman

Segmen I

indosiar.com - Perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad di setiap daerah di indonesia berbeda - beda sesuai dengan tradisi. Di Kraton Kanoman - Cirebon - Jawa Barat, ada tradisi unik merayakan mauled, konon sejak lima abad lalu, ketika Sunan Gunung Jati menyebarkan ajaran agama Islam.

Perayaan ini juga menjadi perlambang kebesaraan Kraton ini di Masa lalu. Kebesaran Islam di Jawa Barat tidak lepas dari Cirebon - kota yang berada di pesisir pantai utara. Kebesaran Islam Masih terasa ketika kita meMasuki kota yang berpenduduk sekitar tiga Ratus jiwa ini.

Sunan Gunung jadilah orang yang bertanggung Jawab menyebarkan agam Islam di Jawa Barat, sehingga berbicara tentang Cirebon tidak akan lepas dari sosok dia. Setiap hari ribuan orang berziarah ke makamnya yang berusia enam abad. Mereka yakin, ruh-nya tetap memberikan berkah.

Sunan Gunung Jati juga meninggalkan jejak -nya yang hingga kini Masih berdiri tegak, jejak itu bernama Kraton Kanoman. Barangkali sebagian besar orang tidak menyadari, bahwa bangunan ini dahulu sangat berpengaruh dan berkuasa.

Namun jaman telah mengubah Kraton yang kini tenggelam dalam hiruk pikuk kota dan pasar yang semrawut. Di Kraton ini tinggal sultan ke dua belas yang bernama raja Muhammad Emiruddin berserta keluarga dan abdi dalem, atau pembantu setia.

Sang Ratu, bernama Arimbi Nurtina, istri dari raja Muhammad Emiruddin menerima kami dengan baik. Ia sangat dihormati, karena Masih keturunan Sunan Gunung Jati.

Kraton adalah komplek luas, yang terdiri dua puluh tujuh bangunan kuno. salah satunya saung yang bernama bangsal witana yang merupakan cikal bakal Kraton yang luas hampri lima kali lapangan sepak bola ini.

Di bangsal ini, dua anak raja Pajajaran, Prabu Siliwangi Ratu Mas Rarasantang dan pangeran Cakra Buwana belajar agama Islam. Dari Ratu Mas Rarasantang ini lahirlah Sunan Gunung Jati yang kemudian membangun Kraton dan menjadikannya pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat.

Sebagian barang - barang yang digunakan sang Sunan Masih ada, seperti dua kereta bernama Paksi Naga Liman dan Jempana yang Masih terawat baik dan tersimpan di museum. Bentuknya burok, yakni hewan yang dikendarai Nabi Muhammad ketika ia Isra Mi'raj.

Tidak jauh dari kereta, terdapat bangsal Jinem, atau Pendopo untuk Menerima tamu, penobatan sultan dan pemberian restu sebuah acara seperti Maulid Nabi. Dan dibagian tengah Kraton terdapat komplek bangunan bangunan bernama Siti Hinggil.

Ada tiga pintu Masuk kedalam bangunan ini. Di sinilah raja biasa menyaksikan acara-acara tertentu yang resmi. Dan pementasan gamelan pusaka dilakukan di tempat ini atau bangsal selatan, seperti pada perayaan Maulid nanti.

Maulid memang menjadi hari istimewa, karena banyak bagian - bagian di Kraton yang tertutup rapat, terbuka untuk umum. seperti pintu besar yang bernama Lawang Siblawong. Dan dalam ritual Panjang Jimat nanti, pintu ini akan menjadi jalan menuju keselamatan, yakni Masjid Agung Kraton Kanoman.

Segmen II

Dua hari menjelang perayaan Maulid, keluarga keraton Kanoman semakin sibuk. Maulid adalah hajatan besar setiap tahun yang melibatkan banyak orang, termasuk masyarakat umum di luar keratin. Sehingga makanan pun disediakan dalam jumlah besar.

Mereka memotong dua ekor kerbau. Dagingnya untuk hidangan para tamu dan bagian kepala, mereka tanam di dua penjuru gerbang keratin. Setiap Maulid, keluarga dan kerabat Kraton juga harus mencuci benda - benda pusaka yang usianya ratusan tahun.

Benda-benda ini dihadiahkan dinasti Ming kepada permasuri kesultanan Cirebon sekitar abad ke lima belas. Sebagian adalah alat kecantikan untuk wanita yang bentuknya mirip jantung dan hati.

Kaum wanita yang boleh mencucinya, itupun hanya mereka yang sedang tidak datang bulan. Kaum pria, tugas mengambil air dari sumur yang jumlahnya ada tujuh di sekitar Kraton.

Mereka menghormati benda-benda yang usianya lebih tua dari mereka ini. Sehingga tidak satupun dari mereka ada yang bercakap-cakap atau bercanda. Maulid benar-benar membuat Kraton Cirebon lebih hidup, baik siang maupun malam. Ini sudah berlangsung sejak sebulan yang lalu.

Mereka memasak dua jenis makanan. Untuk ritual dan warga biasa. Juru masak ritual menggunakan sepuluh wajan besar untuk memasak nasi kuning. Mereka memasaknya dengan hati - hati dan sabar, karena nasi ini adalah lambang berkah.

Sebaliknya, kelompok pemasak ini memasak makanan yang akan dibagikan kepada warga. Ribuan warga berjubel memenuhi keraton ini. Mereka berdatangan dari berbagai daerah di Jawa dan wilayah lain di Indonesia. Sebagian ada yang sudah berhari - hari di dengan bekal seadanya.

Mereka masih mengormati keraton Cirebon. Karena Sunan Gunung Jati salah satu Wali Songo, menyebarkan agama Islam di Jawa dari keraton ini.


Sebagian lagi percaya dengan mitos - mitos dan berharap berkah dari Kraton. Seperti mandi di sumur ini misalnya. Air -nya mereka percaya akan memberikan berkah.

Sebagian datang bersama keluarga. Seperti ibu ini yang datang dari Kroya - Jakarta bersama keluarganya. Ia ingin menjadi TKW..., jadi tidak ada salahnya mandi di tempat ini.

Malam harinya..., suara gamelan mengalun dan mereka memainkannya hanya lima kali dalam semalam. Ketika subuh hingga waktunya sholat isa. Kaum wanita - nya mempersiapkan mungkus Shalawat, bungkusan daun pisang yang berisi uang logam dan diikat tali bamboo.

Bungkusan ini akan dibagikan kepada masyarakat ketika perayaan maulid tiba. Siapa yang mendapatkan paling banyak, akan banyak pula berkahnya. Esoknya dimulai Panjang Jimat, yakni arak-arakan yang membawa semua benda pusaka. Prosesi inilah yang menjadi inti perayaan Maulid.

Segmen III

Suasana di keraton seolah berubah menjadi pasar rakyat. Namun tetapi menarik, melihat bagaimana warga dan kekuasaan yang dahulunya berpengaruh melebur. Ada gula ..ada semut, pepatah yang tepat untuk para pedagang yang menggelar lapaknya di sini.

Termasuk pedagang nasi jamblang, makanan khas Cirebon yang biasa membuka tenda di pinggiran jalan. Tidak berlebihan mengatakan bahwa rakyat sebagian besar masih menghormati keraton Kanoman.

Tradisi Maulid ini menjadi kesempatan emas untuk bertemu dengan raja kharismatik ini, yakni sultan kedua belas, Raja Muhammad Emiruddin, yang naik tahta 2003.

Ia memimpin keraton yang pada abad kelima belas sangat disegani dan berpengaruh di Jawa Barat. Dari rakyat untuk sultan. Begitu sebaliknya, adalah bentuk kepedulian sebagian rakyat Cirebon. Kepedulian itu justru yang membuat Keraton Kanoman Cirebon hingga kini masih tetap bertahan.

Kaum wanita sibuk membuat wewangian dari aneka macam bunga yang harum yang akan mereka taburkan di setiap piring besar saat arak-arakan panjang jimat. Sementara keluarga dan abdi dalem akan bersiap - siap membawa benda pusaka dan makanan ke sultan untuk meminta restu. Menarik..., peringatan ini seolah menghadirkan kembali kejayaan keraton ini pada masa lampau.

Sultan kemudian memberikan restu untuk memulai prosesi panjang jimat. Panjang jimat merupakan puncak peringatan Maulid nabi. Perpaduan Islam dan tradisi setempat sangat terasa.

Prosesi bergerak dari keraton menuju masjid agung peninggalan Sunan Gunung Jati lima abad yang lalu dan berlangsung dengan khidmat. Semua warga berhenti melakukan kegiatannya. Prosesi berakhir di tempat ini.

Patih dan semua sesepuh membacakan kitab barjanji yang berisi sejarah nabi agar masyarakat mau mencontoh kebajikan yang dilakukan nabi semasa hidupnya. Masyarakat diluar setia menunggunya hingga larut malam dengan harapan kebagian makanan sesaji atau uang kepingan.

Peringatan Maulid berakhir. Entah sudah yang keberapa kalinya. Keraton Kanoman sudah menggelar tradisi ini semenjak Sunan pertama kali menyebarkan ajaran Islam di Jawa Barat sekitar lima ratus tahun yang lalu.

Tradisi ini menjadi saksi dari sejarah yang panjang sebuah kerajaan disegani dan sangat berpengaruh pada waktu itu. Oleh karena itu keraton harus tetap bertahan, kendati tidak mudah di jaman yang berubah begitu cepat.(Her)

Sumber :http://www.indosiar.com

Beri komentar pada blog ini

AdBrite