Kamis, 08 Januari 2015

Tradisi Panjang Jimat, Merawat Kearifan Lokal Cirebon


KOMPAS.com/SRI NOVIYANTI Panjang Jimat atau Grebeg Mulud merupakan budaya berbasis religi di Cirebon

CIREBON, KOMPAS.com – Keraton Kasepuhan Cirebon mendadak diserbu oleh warga desa. Bukan, bukan karena ada masalah. Masyarakat datang berbondong-bondong demi menyaksikan tradisi yang telah dirawat sejak ratusan tahun lalu, Panjang Jimat. Maka tak heran, bagi masyarakat Cirebon, tradisi ini merupakan bagian yang tak terpisahkan. Mereka menikmatinya sejak mereka kecil hingga turun temurun seperti sekarang.
Pada dasarnya, Panjang Jimat dilakukan untuk memperingati hari kelahiran Nabi besar umat Islam, Muhammad SAW yang diperingati setiap tanggal 12 Rabiul Awal. Tahun ini jatuh pada 3 Januari 2015. Di Cirebon, bulan Rabiul Awal disebut juga dengan bulan Muludan. Ketiga keraton di Cirebon, yaitu Keraton Kasepuhan Cirebon, Keraton Kanoman Cirebon, dan Keraton Kacirebonan ikut merawat tradisi ini. Ketiganya menyelenggarakan Panjang Jimat hari itu.
Kebetulan, saya berkesempatan melihat upacara yang menjadi magnet masyarakat ini di salah satu Keraton yang mengadakan, Kesultanan Kasepuhan Cirebon. Sejak sore saya sudah di sana, kurang lebih 4 jam sebelum upacara berlangsung. Walaupun gelaran dilaksanakan malam hari, bukan berarti pada sore harinya kawasan ini sepi.
“Kami biasanya menyebut bulan Rabiul Awal sebagai bulan Mulud. Sebagai bulan yang dianggap istimewa, hadir juga Pasar Mulud di pelataran kawasan Keraton yang selalu ramai,” ungkap Wakil Ketua Panitia, Elang Rochadi.
Ramai menurut Rochadi memang benar adanya, di sepanjang jalan menuju Keraton menjadi pasar dadakan saat bulan ini, berbagai macam barang dagangan dijajakan. Mulai dari makanan, kerajinan tangan, pakaian, hingga barang-barang elektronik. Orang yang datang tentu saja ribuan. Tua, muda memenuhi pasar sampai kawasan Keraton. Pada sore seperti hari itu saja perlu upaya untuk dapat masuk dengan selamat. Selain ramai dan harus antre masuk, kawasan itu jadi rawan copet. Belum lagi hujan yang hampir setiap hari mengguyur kawasan ini. Tetapi tetap saja, pengunjung antusias datang.
“Puncaknya memang ada pada acara Panjang Jimat yang malam ini digelar. Mulainya pukul 7 malam tapi kalau bisa harus datang sebelum waktunya karena selain pintu ditutup, kawasan akan sangat penuh. Ribuan orang akan memenuhi tempat ini,” tambah Rochadi.
KOMPAS.com/SRI NOVIYANTI Prosesi Panjang Jimat
Untuk masuk ke kawasan ini, diwajibkan untuk membeli tiket seharga Rp 8.000, lebih murah bila dibandingkan tidak ada acara. “Kalau tidak ada acara, harga tiket masuk mencapai Rp 15.000,” ujarnya.
Tetapi jangan kaget kalau banyak yang memaksa pengunjung bayar lagi dengan tameng, “Sumbangan seikhlasnya untuk kebersihan”. Ketika saya masuk, sudah dua kali menemukan rombongan yang meminta sumbangan sebelum sampai pada pintu masuk dengan tiket yang sebenarnya. Di gedung-gedung dalam kawasan juga seperti itu, Anda akan dimintai sumbangan sebelum masuk.
Prosesi Panjang Jimat
Prosesi upacara Panjang Jimat berlangsung 1,5 jam. Isinya, arak-arakan berbagai benda yang melambangkan kelahiran nabi. Arak-arakan dimulai sejak berada di Bangsal Prabayaksa Keraton Kasepuhan menuju Langgar Agung yang berjarak sekitar 100 meter. Pimpinannya, tentu Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat.
Dalam arak-arakan, abdi dalem berbaris membawa peralatan upacara lengkap. Ada yang membawa obor, tunggul manik, dan lilin sebagai simbol kelahiran nabi di malam hari. Lalu ada juga yang membawa perangkat upacara lainnya. “Perangkat lain ialah manggaran, nadan, dan jantungan. Simbol yang melambangkan kebesaran dan keagungan yang diiringi dengan shalawat Nabi,” tutur Rochadi.
KOMPAS.com/SRI NOVIYANTI Abdi dalem membawa lilin saat gelaran Panjang Jimat sebagai simbolis nabi yang lahir saat malam hari
Belum lengkap, ada juga kelompok yang membawa air merah dan kembang goyang dengan isi boreh yang melambangkan air ketuban sebelum bayi lahir dan ari-ari setelah bayi lahir. Kelompok lainnya membawa air serbad (air dari gula aren) dalam guci yang melambangkan darah ketika bayi lahir. Selanjutnya ada pula perlengkapan upacara yang menjadi simbol empat unsur manusia, angin, tanah, api dan air. Tak lupa, mereka juga membawa piring-piring pusaka peninggalan Sunan Gunung Jati yang berisi nasi dan lauk-pauk. Kalau dijumlahkan ada 7 jenis makanan yang menyimbolkan jumlah hari dalam satu minggu.
“Setelah rengrengan dibawa ke Langgar Agung, kemudian dilaksanakan shalawatan dan pengajian yang dilanjutkan dengan membagi-bagikan makanan yang disajikan di atas piring pusaka. Pertama-tama santapan ini diberikan pada abdi dalem, dan bila abdi dalem mau akan dibagikan lagi ke masyarakat yang hadir,” tuturnya.
KOMPAS.com/SRI NOVIYANTI Iring-iringan saat prosesi Panjang Jimat
Dikunjungi Puluhan Ribu Masyarakat
Kalau di beberapa tempat, perayaan untuk memperingati kelahiran Nabi sudah hilang, berbeda dengan di sini. Pengunjung datang akan merasakan betapa sakralnya prosesi tersebut. Masyarakat dari desa-desa hingga luar kota datang untuk menikmatinya.
“Sebagian dari mereka ikut berkontemplasi dan mengenang kelahiran Nabi. Sebagian lagi, sudah menjadikan acara ini bagai hiburan dan budaya yang menarik saja. Lagipula di acara-acara seperti ini, mereka bisa ketemu Sultan. Biasanya itu yang membuat antusias. Kalau warga desa, bahkan datang dengan membawa hasil bumi,” ulasnya.
Karena yang datang memadati acara tersebut mencapai puluhan ribu orang, maka wajar pada hari itu kalau kawasan ini menjadi kotor dan banyak sampah yang tertinggal. Tak hanya itu, saat prosesi dilaksanakan banyak pula yang saling dorong karena ingin melihat.
KOMPAS.com/SRI NOVIYANTI Sajian makanan dalam piring pusaka warisan Sunan Gunung Jati
“Sudah tiap tahun seperti itu, sampah tak bisa dihindari tapi nanti akan kami bersihkan lagi. Dorong-dorongan pun tak bisa dihindari, kadang ada yang pingsan juga. Tapi untuk meminimalisir hal seperti itu, sekarang kita sediakan layar besar tepat di halaman bangsal Prabayaksa. Kalau yang tak bisa lihat ke dalam, lihat saja ke layar,” ungkapnya.
Walaupun begitu, tersirat kebanggaan di mata Rochadi. “Kalau pengunjung terus ramai seperti ini berarti ada rasa antusias yang begitu besar. Kami cukup bangga dengan itu. Tradisi memang tak dapat dirubah, ini lah cara kami merawat tradisi ini agar terus lestari. Saya harap anak cucu sampai cicit kita masih terus dapat menikmatinya,” tutupnya.

Penulis: Kontributor Travel, Sri Noviyanti
Editor : Ni Luh Made Pertiwi F

Rabu, 07 Januari 2015

Selamat Tahun Baru 2015

Semoga Tahun 2015 merupakan tahun yang lebih baik dari tahun tahun sebelumnya

Senin, 22 November 2010

Menata Cinta Produk Sendiri


Aku dan karyaku

Mengapa kehadiran CAFTA menimbulkan rasa was-was dihati para pengrajin kecil ?Mungkin karena produk China sangat murah harganya, mudah dicari barangnya, mudah memilih karena banyak ragamnya, sangat ngetrend karena merupakan barang yang banyak dicari. Barangkali masalah kualitas yang perlu diuji kembali.

Serbuan pasar oleh barang-barang China didorong oleh hasil perjanjian CAFTA, suka atau tidak suka, maka semua dikembalikan kepada konsumen yang menerima manfaat atas barang-barang tersebut.Disisi lain kehadiran barang-barang China merupakan ajang kompetisi bagi produk lokal yang sejenis, sehingga diharapkan akan meningkattkan daya kreatifitas bagi para pengrajin kita yang pada muaranya diharapkan produk lokal mampu bersaing dipasaran.

Tetapi apa yang terjadi kemudian ? ternyata barang-barang produksi China sangat mempengaruhi produk lokal yang sejenis. Walaupun terbatas pada produk yang jarang diproduksi di negeri kita, salah satunya Handphone, mungkin dinegeri kita tidak terlalu banyak yang memproduksinya. Sedangkan di negeri China penerapan Teknologi terkini sangat cepat perkembangannya, sehingga kemunculan produk saingan sangat banyak dan beragam.

Keinginan konsumen benar-benar dimanjakan oleh produsen barang tersebut, cobal lihat betapa harga HP semakin terjangkau oleh konsumen kecil. Soal kualitas ? rasanya masih dikesampingkan yang penting harganya murah meriah dan bermanfaat sekedar untuk sms,telpon dan berselancar didunia maya. Kontan saja vendor produk bermerek harus mengencangkan ikat pinggang dalam persaingan yang sangat ketat, herannya harga jual kembali HP bermerek terus merosot tajam dari harga yang dibeli semula.

Sekarang kita kembali ke produk diluar HP, salah satunya adalah kerajinan. Bedrsyukur kerajinan kita masih belum banyak bersaing dengan produk yang membanjiri pasar. Terlepas dari pengecualian dalam impor produk kerajinan luar atau tidak, kenyataan dilapangan sangat sulit mencari produk Lukisan Kaca China yang beredar dipasaran. Kesempatan ini sebenarnya harus menjadi peluang bagi para pengrajin kita dalam meningkatkan penjualanproduknya, karena tidak adanya barang sejenis yang menjadi pesaing dipasaran. Tetapi apa lacur, sebelum CAFTA ada maupun sesuydah CAFTA hadir, kenyataannya produk kerajinan lokal tetap berjalan ditempat alias biasa-biasa saja.

Jadi apa sebenarnya yang terjadi ? kelihatannya perlu penelitian lebih jauh tentang keterpurukan penjualan kerajinan produk sendiri didunia Global ini. Banyak hal yang mempengaruhinya, banyak pula ragam hambatanya, kita perlu mengevaluasi dari akar yang sangat dalam yakni adakah cinta terhadap produk sendiri ? Kalau dugaan ini benar, berarti kita sudah mulai menghapus memori akan "Rasa Cinta Produk Sendiri". Dan jika ini juga benar, maka jangan harap Kerajinan Produk Sendiri lambat laun akan hengkang dari ingatan konsumen lokal.Berarti kiat perlu mendongkrak kembali "Image Branding" terhadap produk yang dihasilkan bangsa sendiri.

Tahapan awal tentunya marilah kita menata kembali arti "Cinta" terhadap Produk Sendiri, benamkan dalam-dalam dibenak dan pikiran serta hati kita untuk terus mencintai produk sendiri. Kehadiran produk luar, biarkan saja sebagai bahan perbandingan, tetapi sebaiknya memilih produk sendiri adalah sesuatu yang sangat "urgen". Biasakan mengingat produk-produk buatan negeri sendiri baik berupa seni,kerajinan maupun alat fungsional. Mulailah menyukai dengan membeli produk-produk dalam negeri yang didalamnya tertanam rasa cinta dan tanggung jawab untuk tetap melestarikan keberadaan dan perkembangan produk lokal. Jadi siapa lagi yang harus melestarikannya? jika bukan diri kita sendiri. Lambat laun perkembangan kerajinan dari hasil produk sendiri akan tetap lestari dan berkembang sepanjang masa serta mampu mendongkrak indeks daya beli masyarakat kita.

Betapa pentingnya menata cinta produk sendiri dalam mempertahankan kelestarian produk Indonesia, maka akan menjadikan lahan potensial bagi kemajuan para pengrajin kita. Membeli produk sendiri setidaknya berdampak kepada peningkatan kesejahteraan para pengrajin kita. Sayang jika para pengrajin yang dulu rajin berkarya, kini beralih profesi menjadi penjaja produk China atau produk negara lain. Sangat disayangkan apabila dikelak kemudian hari , Lukisan Kaca tinggal nama, Topeng Cirebon tinggal cerita, atau bisa jadi Batik Tulis karya adiluhung bangsa Indonesia tinggal kenangan karena dibabat habis Batik Printing negeri seberang lautan. Menyakitkan bukan?

Oleh karenanya, marilah dari saat ini, kita mulai menata kembali rasa cinta terhdap produk sendiri. Mulai dari diri sendiri dan lingkungan sendiri. Insya Allah pada akhirnya kerajinan lokal kita atau produk hasil sendiri akan tetap berkibar, lestari dan berkembang dinegeri sendiri. Semoga.

Cirebon, Nopember 2010.

Penulis,

Halimi,SE,MM.


MENGGAPAI HARAP DITENGAH BADAI KELESUAN PASAR KERAJINAN CIREBON


Aku diantara karya-karyaku


Seperti tak pernah berhenti badai menerjang dibelantara bisnis kerajinan Cirebon, hampir sepanjang tahun musim kelesuan menguasai pasar. Dan badai tak pernah sekalipun berlalu memberi luang meraup keuntungan, seperti enggan mengubah arah memberikan peluang menggapai harap. Itulah sekilas gambaran tentang pemasaran produk kerajinan Cirebon, yang juga terbebani untuk tetap eksis mempertahankan kelestariannya.

Meski beragam program dan bermacam kegiatan digelontorkan untuk para pengrajin kecil kita, tetap saja dipenghujung tujuan berputar dimuara ketidakpastian pasar. Berapa banyak pengrajin kita tidak mampu menembus pasar secara berkesinambungan, sehingga begitu sulit menopang jalannya usaha kerajinan. Terseok-seok diantara sepinya konsumen, terpedaya dalam arus kesulitan dan minimnya minat dilingkungan pasar baik lokal apalagi mancanegara.

Mampukah mereka bertahan ?

Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sulit untuk dijawab,karena banyak faktor lain yang menyebabkan mereka masih bertahan dalam badai yang menerjang usaha kerajinan. Seperti apa sebenarnya faktor yang begitu mempengaruhi mereka untuk bertahan ? marilah kita kaji agar kita mampu memahami tentang kehidupan pengrajin kita. Adakah Solusi lain untuk mengentaskan kesulitan dikalangan para pengrajin kita ?

Pertama barangkali yang harus dikritisi mengapa pangsa pasar kerajinan sulit beralih menjadi sebuah keuntungan dan meningkatkan kesejahteraan hidup para pengrajin. Coba kita lihat seperti apa program dan kegiatan yang telah diberikan Pemerintah kita, apakah program dan kegiatan tersebut berkesinambungan sampai menyentuh kepada upaya terobosan pasar? Terkadang program dan kegiatan terkendala dengan keterbatasan anggaran sementara yang harus dilayani begitu banyak baik jumlah dan ragam usaha, menyiasati dengan skala prioritas masih juga dihadapkan kepada penjualan produk yang terbatas pula.

Jika memang hal itu menjadi penyebab kurang fokusnya melakukan peningkatan usaha kerajinan, sebaiknya dibuat satu koridor pembinaan yang berjenjang hingga ke tingkat Pemerintah Pusat. Sebagai contoh apabila ditingkat daerah sedang memprioritaskan salah satu kerajinan daerah, maka harus pula menyambung dengan Program dan Kegiatan yang disediakan di Tingkat Pemerintah Provinsi yang berakhir menyatunya Skala Prioritas Program dan Kegiatan di Tingka Pemerintah Pusat.

Memang akan terasa sulit menyatukan langkah untuk membesarkan,meningkatkan dan memperluas pangsa pasar bagi sebuah produk kerajinan daerah, selama tingkat koordinasi mengalami pergeseran tujuan. Apalagi ditingkahi dengan berbagai keinginan yang bisa jadi memperlambat kecepatan terobosan pasar kerajinan itu sendiri. Ilustrasinya sangat mudah, kalau didaerah memperjuangkan satu produk andalan yang ingin diwujudkan menjadi produk unggulan belum berarti di tingkat Pemerintah Propinsi akan juga sama memprioritaskan produk tersebut apalagi di Tingkat Pusatnya bisa jadi produk akan berbeda dengan yang diperjuangkan didaerah.

Tetapi semua akan menjadi satu komando jika ada hal yang sangat istimewa terhadap produk tersebut. Salah satu contoh adalah Kerajinan Batik. Jauh sebelum batik mendapat pengakuan dan penghargaan UNESCO, geliat memperjuangkan Batik agar berhasil dalam setiap pangsa pasar tidaklah pendek waktunya. Mungkin puluhan tahun para pengrajin Batik memperjuangkan nasibnya agar bisa mendapatkan peluang dimata seluruh konsumen baik lokal,regional,nasional bahkan international. Dilalahnya, ada kasus diakuinya Batik oleh Negara lain, maka semua seperti tersadar dalam mimpi bersama melakukan upaya agar Batik tidak diakui Negara lain. Begitu Unesco memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap produk Batik yang akhirnya hanyalah milik Indonesia, serempak pula dari seluruh tingkatan Pemerintah berlomba-lomba melakukan aksi untuk mensosialisasikan Batik dengan bermacam program dan kegiatannya. Gelar dan Gebyar Batik sering kita dengar melalui event kegiatan Pameran baik local, Regional, Nasional bahkan International. Berapa banyak biaya yang dibutuhkan untuk program dan kegiatan dimaksud, tak pernah merasa rugi karena memang sedang dalam masa booming batik.

Nah sekarang bagaimana dengan para pengrajin Batik itu sendiri ? akan sangat beragam dari hasil booming batik tersebut, tergantung dari masing-masing pribadi menyikapi hal ini. Banyak pengusaha yang merasa ketiban untung besar dengan booming batik tersebut karena “mendompleng” program dan kegiatan yang dilakukan Pemerintah, tapi banyak juga para pengrajin batik yang merasakannya “biasa-biasa saja”. Namun secara keseluruhan kebangkitan Batik Indonesia mulai merangkak menaiki tangga kesuksesan meraih pangsa pasar, banyak juga yang kewalahan menerima pesanan barang karena banyak pengusaha “dadakan” menjual produk batik.

Didunia maya tak kalah hebohnya dengan bermunculannya Web, Blog atau Toko Online yang memasarkan Batik yang diyakini sebagian besar adalah pengusaha atau pedagang “dadakan” dan sedikit sekali yang dilakukan para pelaku usaha kerajinan Batik. Dan yang sangat menggembirakan justeru Pasar Lokal didongkrak dengan kebijakan Pemerintah Daerah, Propinsi dan Pusat untuk membudayakan memakai pakaian seragam batik dalam hari-hari tertentu disetiap minggu dan bulannya. Sangat hebat pergerakan kebangkitan Batik Indonesia ini saat sekarang.

Lalu bagaimana dengan nasib Pengrajin diluar kerajinan Batik ? hal inilah yang menjadi fokus tulisan saya pada saat ini. Karena mungkin tidak akan gampang menyatukan booming seluruh produk kerajinan dlam waktu yang bersamaan, karena banyak factor lain yang akan membedakan pergerakan itu sendiri.

Kita menyadari Batik cepat bergerak karena ada sebab yang membuat seluruh masyarakat Indonesia merasa terpanggil, Batik cepat membooming karena Batik adalah salah satu kebutuhan sandang yang diperlukan konsumen, Batik dapat meraih pasar karena banyak ragam dengan harga terjangkau masyarakat lapisan menengah kebawah.

Akan sangat berbeda ketika harus memboomingkan Lukisan Kaca Cirebon misalnya. Satu hal yang membedakan karena tidak semua orang menyukai seni, karena Lukisan Kaca bukan kebutuhan sandang yang banyak dibutuhkan masyarakat, karena Lukisan Kaca hanya tumbuh di Cirebon dan bukan seluruh daerah di Indonesia ini. Tetapi bisa saja produk kerajinan Lukisan Kaca akan membooming didaerah sendiri dengan pangsa pasar lokal dengan mengubah strategi pemasaran produk dan teknik pembuatan produk yang harus diarahkan kepada kebutuhan pasar serta memproduksi produk inovatif, kreatif dan bersifat fungsional. Andai saja Lukisan Kaca bukan hanya pajangan atau hiasan dinding semata, andai saja Lukisan Kaca menjadi hiasan alat rumah tangga seperti meja ,kursi, buffet, penyekat ruangan, kaca hias,lampu hias dan barang fungsional yang banyak dibutuhkan masyarakat. Mungkin sedikitnya produk Lukisan Kaca Cirebon dapat mampu mendongkrak pemasaran produknya dan dapat dibutuhkan oleh konsumen masyarakat menengah kebawah.

Kedua, peningkatan pemasaran produk kerajinan Cirebon secara keseluruhan akan dapat berjalan lancar dan berkembang pesat, apabila kita mampu mengkritisi tentang “Motivasi Diri” dari masing-masing pelaku usaha dan pengrajin yang bergerak di bidang kerajinan Cirebon. Betapa tidak dalam situasi pergerakan barang-barang asal Negara China sebagai dampak dari CAFTA (China Asean Free Trade Area) sangat memprihatinkan bagi keberlangsungan pelaku usaha kerajinan dimanapun tempat di Indonesia ini. Secara perlahan tanpa kita sadari beberapa tenaga yang biasa bekerja di bidang kerajinan mulai beralih untuk menjadi Pedagang Produk China, karena upah yang diterima sangat berbeda bahkan bekerja menjadi tenaga pemasar Produk China yang notabene berada pada Gedung Pasar Modern seperti Mall atau Hyper Mart, jelas akan meningkatkan penampilan diri dari penampilan sebelumnya. Kita tidak dapat menahan keinginan para pelaku usaha yang kebanyakan anak-anak muda usia pencari kerja produktif (terutama di kota-kota besar), mereka akan cepat tertarik dengan ajakan bekerja di counter-counter HP, barang elektronik atau tenaga pemasaran barang luar lainnya ketimbang bekerja ditempat sederhana diruang produksi kerajinan yang kebanyakan berada di pedesaan dan perkampungan. Memberikan motivasi untuk tetap berusaha secara tekun,sabar,telaten dan tidak menyerah kepada situasi apapun akan terasa sulit dikembangkan dan dilaksanakan selama kondisi minimal tidak dilakukan perubahan. Barangkali kita tidak perlu menunggu waktu untuk membedah fenomena perkembangan produk kerajinan Cirebon ini, segera memulai pembenahan disemua sisi baik program, kegiatan dan pendanaan yang tepat sasaran. Banyak Instansi yang mempunyai kewenangan pembinaan terhadap para pengrajin kita, selama bisa berpangku tangan bersama-sama memberikan bantuan dan bimbingan usaha serta melakuka terobosan pasar, suatu saat kerajinan Cirebon akan bangkit memperkuat jati dirinya.

Ketiga, perkembangan dan pelestarian produk kerajinan Cirebon akan mampu melewati masa-masa kelesuan pemasaran seandainya ada keterpaduan pembinaan yang diarahkan mulai dari hulu sampai ke hilir. Mulai dari teknik produksi, inovasi produk, diversifikasi produk, penguatan kelembagaan usaha, penguatan manajemen usaha,pemberian permodalan dengan bunga lunak dan tanpa agunan, pemberian bantuan pemasaran lokal,regional,nasional dan international, mempermudah periujinan, memberikan perlindungan HAKI, mempermudah memiliki SNI dan lain sebagainya. Maka akan dibayangkan pada akhir perjalanan waktu banyak pengrajin kita yang meraih impiannya dan memiliki dunia usaha yang prosfektif.

Keempat, perjalanan usaha kerajinan Cirebon akan mendapatkan kondisi yang diharapkan apabila dilengkapi dengan fakor keempat yakni menjiwai dan memahami “Rasa Cinta Produk Sendiri”. Bukankah slogan itu sudah lama kita dengar dan sudah lama melekat dipendengaran kita. Tetapi mengapa hanya “dilidah” ? mengapa hanya “didengar” ? Tinggalkan mulai saat ini memanjakan Produk Luar, mulailah senang berpakaian Batik produk Cirebon, bersepatu produk pengrajin sendiri,berdasi hasil konfeksi daerah sendiri, menata hiasan dinding dengan produk Lukisan Kaca Cirebon, mempercantik sudut ruangan dengan Topeng Cirebon, menikmati empuknya kursi dengan produksi pengrajin sendiri, bahkan menikmati lezatnya makanan dengan makanan khas Cirebon.

Subhanallah jika itu dilakukan oleh seluruh masyarakat Cirebon, rasanya kita takkan mendengar keluh kesah sulitnya pemasaran produk kerajinan Cirebon. Jika semuanya melakukan pergerakan mencintai produk sendiri secara utuh dan berkelanjutan, mustahil kerajinan Lukisan Kaca menggeliat kesusahan, mustahil pengrajin Topeng Cirebon merajuk kesulitan, mustahil pengrajin rotan, pengrajin ukiran diterpa badai kelesuan. Bukankah Badai Pasti Berlalu ? itulah harapan kita agar Badai Kelesuan Kerajinan Cirebon berlalu , yang ada hanyalah saat-saat menyongsong situasi dan kodisi usaha menuju perbaikan dan perubahan.

Sampai disini kuketik tulisan ini, karena tak mungkin cukup memuat geliat hati yang resah dan gejolak hati yang gundah. Bukan bermaksud tidak mensyukuri keadaan, tetapi hanya sebagai “sharing” pemikiran agar Badai Kelesuan Kerajinan Cirebon segera berlalu untuk menggapai cita,cinta,cipta dan karsa demi pelestarian dan perkembangan Produk Kerajinan Cirebon yang diharapkan tetap abadi dihati kita selamanya. Semoga.

Kalijaga Permai diawal Nopember 2010.

Penulis,

Halimi,SE,MM.

Tiga Tokoh Penyebar Agama Islam di Pasundan | Cakrabuana | Syarif Hidayatullah | Kian Santang

Oleh ASEP AHMAD HIDAYAT
BERBICARA tentang proses masuknya Islam (Islamisasi) di seluruh tanah Pasundan atau tatar Sunda yang sekarang masuk ke dalam wilayah Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat, maka mesti berbicara tentang tokoh penyebar dari agama mayoritas yang dianut suku Sunda tersebut. Menurut sumber sejarah lokal (baik lisan maupun tulisan) bahwa tokoh utama penyebar Islam awal di tanah Pasundan adalah tiga orang keturunan raja Pajajaran, yaitu Pangeran Cakrabuana, Syarif Hidayatullah, dan Prabu Kian Santang.
Sampai saat ini, masih terdapat sebagian penulis sejarah yang meragukan keberadaan dan peran dari ketiga tokoh tersebut. Munculnya keraguan itu salah satunya disebabkan oleh banyaknya nama yang ditujukan kepada mereka. Misalnya, dalam catatan beberapa penulis sejarah nasional disebutkan bahwa nama Paletehan (Fadhilah Khan) disamakan dengan Syarif Hidayatullah. Padahal dalam sumber sejarah lokal (cerita babad), dua nama tersebut merupakan dua nama berbeda dari dua aktor sejarah dan memiliki peranan serta kedudukan yang berbeda pula dalam proses penyebaran Islam di tanah Pasundan (dan Nusantara).
Selain faktor yang telah disebutkan, terdapat juga faktor-faktor lainnya yang mengakibatkan munculnya keraguan terhadap ketiga tokoh tersebut. Di antaranya seperti kesalahan pengambilan sumber yang hanya mengambil sumber asing seperti catatan orang Portugis atau Belanda; atau juga disebabkan sering banyaknya mitos yang dijumpai para penulis sejarah dalam beberapa sumber lokal. Kondisi seperti ini sangat membingungkan dan meragukan setiap orang yang ingin mencoba merekonstruksi ketiga tokoh penyebar Islam di tanah Pasundan tersebut.
Dengan berdasarkan pada realitas historis semacam itu, maka tulisan ini akan mencoba mengungkap misteri atau ketidakjelasan kedudukan, fungsi, dan peran ketiga tokoh itu dalam proses Islamisasi di tanah Pasundan. Dengan demikian diharapkan tulisan ini dapat memberikan sumbangan berarti terhadap khazanah sejarah kebudayaan Islam-Sunda yang sampai saat ini dirasakan masih kurang. Selain itu diharapkan juga dapat memberikan informasi awal bagi para peminat dan peneliti tentang sejarah Islam di tanah Pasundan.

Sumber-sumber Sejarah
SEBENARNYA banyak sumber sejarah yang belum tergali mengenai bagaimana proses penyebaran Islam (Islamisasi) di tanah Pasundan. Sumber-sumber tersebut berkisar pada sumber lisan, tulisan, dan artefak (bentuk fisik). Sumber lisan yang terdapat di tanah Pasundan tersebar dalam cerita rakyat yang berlangsung secara turun temurun, misalnya tentang cerita “Kian Santang bertemu dengan Sayyidina Ali” atau cerita tentang “Ngahiang-nya Prabu Siliwangi jadi Maung Bodas” dan lainnya. Begitu pula sumber lisan (naskah), sampai saat ini msaih banyak yang belum disentuh oleh para ahli sejarah atau filolog. Naskah-naskah tersebut berada di Museum Nasional, di Keraton Cirebon Kasepuhan dan Kanoman, Museum Geusan Ulun, dan di daerah-daerah tertentu di wilayah Jawa Barat dan Banten, seperti di daerah Garut dan Ciamis. Di antara naskah yang terpenting yang dapat dijadikan rujukan awal adalah naskah Babad Cirebon, naskah Wangsakerta, Babad Sumedang, dan Babad Limbangan.
Sumber lainnya yang dapat dijadikan alat bantu untuk mengetahui proses perkembangan Islam di tanah Pasundan ialah artefak (fisik) seperti keraton, benda-benda pusaka, maqam-maqam para wali, dan pondok pesantren. Khusus mengenai maqam para wali dan penyebar Islam di tanah Pasundan adalah termasuk cukup banyak seperti Syeikh Abdul Muhyi (Tasikmalaya), Sunan Rahmat (Garut), Eyang Papak (Garut), Syeikh Jafar Sidik (Garut), Sunan Mansyur (Pandeglang), dan Syeikh Qura (Kerawang). Lazimnya di sekitar area maqam-maqam itu sering ditemukan naskah-naskah yang memiliki hubungan langsung dengan penyebaran Islam atau dakwah yang telah dilakukan para wali tersebut, baik berupa ajaran fiqh, tasawuf, ilmu kalam, atau kitab al-Qur’an yang tulisannya merupakan tulisan tangan.

Tokoh Cakrabuana
BERDASARKAN sumber sejarah lokal (seperti Babad Cireboni) bahwa Cakrabuana, Syarif Hidayatullah, dan Kian Santang merupakan tiga tokoh utama penyebar Islam di seluruh tanah Pasundan. Ketiganya merupakan keturunan Prabu Sliliwangi (Prabu Jaya Dewata atau Sribaduga Maha Raja) raja terakhir Pajajaran (Gabungan antara Galuh dan Sunda). Hubungan keluarga ketiga tokoh tersebut sangatlah dekat. Cakrabuana dan Kian Santang merupakan adik-kakak. Sedangkan, Syarif Hidayatullah merupakan keponakan dari Cakrabuana dan Kian Santang. Syarif Hidayatullah sendiri merupakan anak Nyai Ratu Mas Lara Santang, sang adik Cakrabuana dan kakak perempuan Kian Santang.

Cakrabuana (atau nama lain Walangsungsang), Lara Santang, dan Kian Santang merupakan anak Prabu Siliwangi dan hasil perkawinannya dengan Nyai Subang Larang, seorang puteri Ki Gede Tapa, penguasa Syah Bandar Karawang. Peristiwa pernikahannya terjadi ketika Prabu Siliwangi belum menjadi raja Pajajaran; ia masih bergelar Prabu Jaya Dewata atau Manahrasa dan hanya menjadi raja bawahan di wilayah Sindangkasih (Majalengka), yaitu salah satu wilayah kekuasaan kerajaan Galuh Surawisesa (kawali-Ciamis) yang diperintah oleh ayahnya Prabu Dewa Niskala. Sedangkan kerajaan Sunda-Surawisesa (Pakuan/Bogor) masih dipegang oleh kakak ayahnya (ua: Sunda) Prabu Susuk Tunggal.

Sebelum menjadi isteri (permaisuri) Prabu Siliwangi, Nyai Subang Larang telah memeluk Islam dan menjadi santri (murid) Syeikh Hasanuddin atau Syeikh Quro. Ia adalah putera Syeikh Yusuf Siddiq, ulama terkenal di negeri Champa (sekarang menjadi bagian dari Vietnam bagian Selatan). Syeikh Hasanuddin datang ke pulau Jawa (Karawang) bersama armada ekspedisi Muhammad Cheng Ho (Ma Cheng Ho atau Sam Po Kong) dari dinasti Ming pada tahun 1405 M. Di karawang ia mendirikan pesantren yang diberi nama Pondok Quro. Oleh karena itu ia mendapat gelar (laqab) Syeikh Qura. Ajaran yang dikembangkan oleh Syeikh Qura adalah ajaran Islam Madzhab Hanafiah.

Pondok Quro yang didirikan oleh Syeikh Hasanuddin tersebut merupakan lembaga pendidikan Islam (pesantren) pertama di tanah Pasundan. Kemudian setelah itu muncul pondok pesantren di Amparan Jati daerah Gunung Jati (Syeikh Nurul Jati). Setelah Syeikh Nurul Jati meninggal dunia, pondok pesantren Amparan Jati dipimpin oleh Syeikh Datuk Kahfi atau Syeikh Idhopi, seorang ulama asal Arab yang mengembangkan ajaran Islam madzhab Syafi’iyyah.
Sepeninggal Syeikh Hasanuddin, penyebaran Islam melalui lembaga pesantren terus dilanjutkan oleh anak keturunannya, di antaranya adalah Musanuddin atau Lebe Musa atau Lebe Usa, cicitnya. Dalam sumber lisan, Musanuddin dikenal dengan nama Syeikh Benthong, salah seorang yang termasuk kelompok wali di pulau Jawa (Yuyus Suherman, 1995:13-14).

Dengan latar belakang kehidupan keberagamaan ibunya seperti itulah, maka Cakrabuana yang pada waktu itu bernama Walangsungsang dan adiknya Nyai Lara Santang memiliki niat untuk menganut agama ibunya daripada agama ayahnya (Sanghiyang) dan keduanya harus mengambil pilihan untuk tidak tetap tinggal di lingkungan istana. Dalam cerita Babad Cirebon dikisahkan bahwa Cakrabuana (Walangsungsang) dan Nyai Lara Santang pernah meminta izin kepada ayahnya, Prabu Jaya Dewata, yang pada saat itu masih menjadi raja bawahan di Sindangkasih untuk memeluk Islam. Akan tetapi, Jaya Dewata tidak mengijinkannya. Pangeran Walangsungsang dan Nyai Lara Santang akhirnya meninggalkan istana untuk berguru menimba pengetahuan Islam. Selama berkelana mencari ilmu pengetahuan Islam, Walangsungsang menggunakan nama samaran yaitu Ki Samadullah. Mula-mula ia berguru kepada Syeikh Nurjati di pesisir laut utara Cirebon. Setelah itu ia bersama adiknya, Nyai Mas Lara Santang berguru kepada Syeikh Datuk Kahfi (Syeikh Idhopi).
Selain berguru agama Islam, Walangsungsang bersama Ki Gedeng Alang Alang membuka pemukinan baru bagi orang-orang yang beragama Islam di daerah pesisir. Pemukiman baru itu dimulai tanggal 14 Kresna Paksa bukan Caitra tahun 1367 Saka atau bertepatan dengan tanggal 1 Muharam 849 Hijrah (8 April 1445 M). Kemudian daerah pemukiman baru itu diberi nama Cirebon (Yuyus Suherman, 1995:14). Penamaan ini diambil dari kata atau bahasa Sunda, dari kata “cai” (air) dan “rebon” (anak udang, udang kecil, hurang). Memang pada waktu itu salah satu mata pencaharian penduduk pemukiman baru itu adalah menangkap udang kecil untuk dijadikan bahan terasi. Sebagai kepada (kuwu; Sunda) pemukiman baru itu adalah Ki Gedeng Alang Alang, sedangkan wakilnya dipegang oleh Walangsungsang dengan gelar Pangeran Cakrabuana atau Cakrabumi.

Setelah beberapa tahun semenjak dibuka, pemukian baru itu (pesisir Cirebon) telah menjadi kawasan paling ramai dikunjungi oleh berbagai suku bangsa. Tahun 1447 M, jumlah penduduk pesisir Cirebon berjumlah 348 jiwa, terdiri dari 182 laki-laki dan 164 wanita. Sunda sebanyak 196 orang, Jawa 106 orang, Andalas 16 orang, Semenanjung 4 orang, India 2 orang, Persia 2 orang, Syam (Damaskus) 3 orang, Arab 11 orang, dan Cina 6 orang. Agama yang dianut seluruh penduduk pesisir Cirebon ini adalah Islam.

Untuk kepentingan ibadah dan pengajaran agama Islam, pangeran Cakrabuana (Walangsungsang atau Cakrabumi, atau Ki Samadullah) kemudian ia mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Sang Tajug Jalagrahan (Jala artinya air; graha artinya rumah), Mesjid ini merupakan mesjid pertama di tatar Sunda dan didirikan di pesisir laut Cirebon. Mesjid ini sampai saat ini masih terpelihara dengan nama dialek Cirebon menjadi mesjid Pejalagrahan. Sudah tentu perubahan nama ini, pada dasarnya berpengaruh pada reduksitas makna historisnya. Setelah mendirikan pemukiman (padukuhan; Sunda) baru di pesisir Cirebon, pangeran Cakrabuana dan Nyai Mas Lara Santang pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Ketika di Mekah, Pangeran Cakrabuana dan Nyai Mas Lara Santang bertemu dengan Syarif Abdullah, seorang penguasa (sultan) kota Mesir pada waktu itu. Syarif Abdullah sendiri, secara geneologis, merupakan keturunan Nabi Muhammad Saw. generasi ke-17.

Dalam pertemuan itu, Syarif Abdullah merasa tertarik hati atas kecantikan dan keelokan Nyai Mas Lara Santang. Setelah selesai menunaikan ibadah haji, Pangeran Cakrabuana mendapat gelar Haji Abdullah Iman, dan Nyai Mas Lara Santang mendapat gelar Hajjah Syarifah Muda’im. Selanjutnya, Nyai Mas Larasantang dinikahkan oleh Pangeran Cakrabuana dengan Syarif Abdullah. Di Mekah, Pangeran Walangsungsang menjadi mukimin selama tiga bulan. Selama tiga bulan itulah, ia belajar tasawuf kepada haji Bayanullah, seorang ulama yang sudah lama tinggal di Haramain. Selanjutnya ia pergi ke Baghdad mempelajari fiqh madzhab Hanafi, Syafi’i, Hambali, dan Maliki.

Selang beberapa waktu setelah pengeran Cakrabuana kembali ke Cirebon, kakeknya dari pihak ibu yang bernama Mangkubumi Jumajan Jati atau Ki Gedeng Tapa meninggal dunia di Singapura (Mertasinga). Yang menjadi pewaris tahta kakeknya itu adalah pangeran Cakrabuana. Akan tetapi, Pangeran Cakrabuana tidak meneruskan tahta kekuasaan kakeknya di Singapura (Mertasinga). Ia membawa harta warisannya ke pemukiman pesisir Cirebon. Dengan modal harta warisan tersebut, pangeran Cakrabuana membangun sebuah keraton bercorak Islam di Cirebon Pesisir. Keraton tersebut diberi nama Keraton Pakungwati. Dengan berdirinya Keraton Pakungwati berarti berdirilah sebuah kerajaan Islam pertama di tatar Sunda Pajajaran. Kerajaan Islam pertama yang didirikan oleh Pangeran Cakrabuana tersebut diberi nama Nagara Agung Pakungwati Cirebon atau dalam bahasa Cirebon disebut dengan sebutan Nagara Gheng Pakungwati Cirebon.

Mendengar berdirinya kerajaan baru di Cirebon, ayahnya Sri Baduga Maharaja Jaya Dewata (atau Prabu Suliwangi) merasa senang. Kemudian ia mengutus Tumenggung Jayabaya untuk melantik (ngistrénan; Sunda) pangeran Cakrabuana menjadi raja Nagara Agung Pakungwati Cirebon dengan gelar Abhiseka Sri Magana. Dari Prabu Siliwangi ia juga menerima Pratanda atau gelar keprabuan (kalungguhan kaprabuan) dan menerima Anarimakna Kacawartyan atau tanda kekuasaan untuk memerintah kerajaan lokal. Di sini jelaslah bahwa Prabu Siliwangi tidak anti Islam. Ia justeru bersikap rasika dharmika ring pamekul agami Rasul (adil bijaksana terhadap orang yang memeluk agama Rasul Muhammad).

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa yang pertama sukses menyebarkan agama Islam di tatar Sunda adalah Pangeran Cakrabuana atau Walangsungsang atau Ki Samadullah atau Haji Abdullah Iman. Ia merupakan Kakak Nyai Mas Lara Santang dan Kian Santang, dan ketiganya merupakan anak-anak dari Prabu Siliwangi. Dengan demikian, ia merupakan paman (ua; Sunda) dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Ia dimakamkan di Gunung Sembung dan makamnya berada luar komplek pemakaman (panyawéran; Sunda) Sunan Gunung Jati.

Tokoh Kian Santang
SEBAGAIMANA halnya dengan prabu Siliwangi, Kian Santang merupakan salah satu tokoh yang dianggap misterius. Akan tetapi tokoh ini, dalam cerita lisan dan dunia persilatan (kependekaran) di wilayah Sunda, terutama di daerah Priangan, sangatlah akrab dan legendaris dengan pikiran-pikiran orang Sunda. Dalam tradisi persilatan, Kian Santang terkenal dengan sebutan Gagak Lumayung. Sedangkan nama Kian Santang sendiri sangat terkenal dalam sejarah dakwah Islam di tatar Sunda bagian pedalaman.

Sampai saat ini terdapat beberapa versi mengenai tokoh sejarah yang satu ini. Bahkan tidak jarang ada juga yang meragukan tentang keberadaan tokoh ini. Alasannya adalah bahwa sumber sejarah yang akurat faktual dari tokoh ini kurang dapat dibuktikan. Sudah tentu pendapat semacam ini adalah sangat gegabah dan ceroboh serta terburu-buru dalam mengambil kesimpulannya. Jika para sejarawan mau jujur dan teliti, banyak sumber-sumber sejarah yang dapat digunakan bahan penelitian lanjut mengenai tokoh ini, baik itu berupa sumber sejarah lisan, tulisan, maupun benda-benda sejarah. Salah satunya adalah patilasan Kian Santang di Godog Garut, atau Makam Kian Santang yang berada di daerah Depok Pakenjeng Garut. Kalaulah ada hal-hal yang berbau mitos, maka itu adalah merupakan tugas sejarawan untuk memilahnya, bukannya memberi generalisir yang membabi buta, seolah-olah dalam seluruh mitologi tidak ada cerita sejarah yang sebenarnya.

Sampai saat ini terdapat empat sumber sejarah (lisan dan tulisan) yang menceritakan tentang sepak terjang tokoh Kian Santang yang sangat legendaris itu. Keempat sumber itu, ialah (1) cerita rakyat, (2) sejarah Godog yang diceritakan secara turun menurun; (3) P. de Roo de la Faille; dan 4) Babad Cirebon karya P.S. Sulendraningrat. Terdapat beberapa versi cerita rakyat mengenai perjalanan dakwah Kian Santang, dikisahkan bahwa Prabu Kian Santang bertanding kekuatan gaib dengan Sayyidina Ali dan Prabu Kian Santang tidak mampu mencabut tongkat yang ditancapkan oleh Baginda Ali kecuali sesudah Prabu Kian Santang membaca kalimat Syahadat.

Di dalam cerita lisan lainnya, dikisahkan bahwa Prabu Kian Santang adalah putera raja Pajajaran yang masuk Islam. Ia pergi ke Arab, masuk Islam dan setelah kembali ia memakai nama Haji Lumajang. Cerita lainnya lagi mengatakan bahwa Prabu Kian Santang mengajar dan menyebarkan agama Islam di Pajajaran dan mempunyai banyak pengikut; dan banyak pula putra raja yang masuk Islam; bahwa Prabu Kian Santang diusir dari keraton dan tidak lagi menganut agama nenek moyangnya dan menghasut raja Pajajaran, bahwa ia akhirnya pergi ke Campa sewaktu kerajaan Pajajaran runtuh.

Dari cerita rakyat tersebut terdapat alur logis yang menunjukkan kebenaran adanya tokoh Kian Santang sebagai salah seorang penyebar agama Islam di tanah Pasundan. Misalnya alur cerita tentang “Haji Lumajang” atau ia pergi ke Campa ketika kerajaan Pajajaran runtuh. Atau istilah Pajajaran itu sendiri yang sesuai dengan data arkeologi dan sumber data yang lainya seperti Babad tanah Cirebon dan lainnya.
Adapun mengenai pertemuannya dengan Sayyidina Ali, boleh jadi nama tersebut bukanlah menantu Rasulullah yang meninggal pada tahun 661 M, melainkan seorang syekh (guru) tarekat tertentu atau pengajar tertentu di Mesjid al-Haram. Jika sulit dibuktikan kebenarannya, maka itulah suatu bumbu dari cerita rakyat; bukan berarti seluruh cerita itu adalah mitos, tahayul, dan tidak ada buktinya dalam realitas sejarah manusia Sunda.
Sejalan dengan cerita rakyat di atas, P. de Roo de la Faille menyebut bahwa Kian Santang sebagai Pangeran Lumajang Kudratullah atau Sunan Godog. Ia diidentifikasi sebagai salah seorang penyebar agama Islam di tanah Pasundan. Kesimpulan ini didasarkan pada bukti-bukti fisik berupa satu buah al-Qur’an yang ada di balubur Limbangan, sebuah skin (pisau Arab) yang berada di desa Cinunuk (distrik) Wanaraja Garut, sebuah tongkat yang berada di Darmaraja, dan satu kandaga (kanaga, peti) yang berada di Godog Karangpawitan Garut.

Dalam sejarah Godog, Kian Santang disebutnya sebagai orang suci dari Cirebon yang pergi ke Preanger (Priangan) dan dari pantai utara. Ia membawa sejumlah pengikut agama Islam. Adapun yang menjadi sahabat Kian Santang setelah mereka masuk Islam dan bersama-sama menyebarkan Islam, menurut P. de Roo de la Faille, berjumlah 11 orang, yaitu 1) Saharepen Nagele, 2) Sembah Dora, 3) Sembu Kuwu Kandang Sakti (Sapi), 4) Penghulu Gusti, 5) Raden Halipah Kandang Haur, 6) Prabu Kasiringanwati atau Raden Sinom atau Dalem Lebaksiuh, 7) Saharepen Agung, 8 ) Panengah, 9) Santuwan Suci, 10) Santuwan Suci Maraja, dan 11) Dalem Pangerjaya.

Dari seluruh cerita rakyat tersebut dapat disimpulkan bahwa Kian Santang merupakan salah seorang putra Pajajaran, yang berasal dari wilayah Cirebon dan merupakan seorang penyebar agama Islam di Pajajaran. Kesimpulan ini dapat dicocokkan dengan berita yang disampaikan oleh P.S. Sulendraningrat yang mengatakan bahwa pada abad ke-13, kerajaan Pajajaran membawahi kerajaan-kerajaan kecil yang masing-masing diperintah oleh seorang raja. Di antaranya adalah kerajaan Sindangkasih (Majalengka) yang diperintah oleh Sri Baduga Maharaja (atau Prabu Jaya Dewata alias Prabu Siliwangi). Pada waktu itu Prabu Jaya Dewata menginspeksi daerah-daerah kekuasaannya, sampailah ia di Pesantren Qura Karawang, yang pada waktu itu dipimpin oleh Syeikh Hasanuddin (ulama dari Campa) keturunan Cina. Di pesantren inilah ia bertemu dengan Subang Larang, salah seorang santri Syeikh Qura yang kelak dipersunting dan menjadi ibu dari Pangeran Walangsungsang, Ratu Lara Santang, dan Pangeran Kian Santang.

Berdasarkan uraian di atas, maka jelaslah bahwa Kian Santang merupakan salah seorang penyebar agama Islam di tanah Pasundan yang diperkirakan mulai menyiarkan dan menyebarkan agama Islam pada tahun 1445 di daerah pedalaman. Ia adalah anak dari Prabu Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi, raja terakhir Pajajaran. Ia berasal dari wilayah Cirebon (Sindangkasih; Majaengka), yaitu ketika bapaknya masih menjadi raja bawahan Pajajaran, ia melarikan diri dan menyebarkan Islam di wilayah Pasundan (Priangan) dan Godog, op groundgebied. Limbangan merupakan pusat penyebaran agama Islam pertama di Tatar Sunda (khususnya di wilayah Priangan). Selain di Godog pada waktu itu, sebagian kecil di pantai utara sudah ada yang menganut Islam sebagai hubungan langsung dnegan para pedagang Arab dan India.

Mula-mula Kian Santang mengislamkan raja-raja lokal, seperti Raja Galuh Pakuwon yang terletak di Limbangan, bernama Sunan Pancer (Cipancar) atau Prabu Wijayakusumah (1525-1575). Raja yang satu ini merupakan putra Sunan Hande Limasenjaya dan cucu dari Prabu Layangkusumah. Prabu Layangkusumah sendiri adalah putra Prabu Siliwangi. Dengan demikian Sunan Pancer merupakan buyut Prabu Siliwangi. Kian Santang menghadiahkan kepada Sunan Pancer satu buah al-Qur;an berkukuran besar dan sebuak sekin yang bertuliskan lafadz al-Qur’an la ikroha fiddin. Berkat Sunan Pancer ini Islam dapat berkembang luas di daerah Galuh Pakuwon, sisi kerajaan terakhir Pajajaran.

Para petinggi dan raja-raja lokal lainnya yang secara langsung diIslamkan oleh Kian Santang di antaranya, ialah (1) Santowan Suci Mareja (sahabat Kian Santang yang makamnya terletak dekat makam Kian Santang); 2) Sunan Sirapuji (Raja Panembong, Bayongbong), 3) Sunan Batuwangi yang sekarang terletak di kecamatan Singajaya (ia dihadiahi tombak oleh Kian Santang dan sekarang menjadi pusaka Sukapura dan ada di Tasikmalaya.

Melalui raja-raja lokal inilah selanjutnya Islam menyebar ke seluruh tanah Priangan. Kemudian setelah itu Islam disebarkan oleh para penyebar Islam generasi berikutnya, yaitu para sufi seperti Syeikh Jafar Sidiq (Penganut Syatariah) di Limbangan, Eyang Papak, Syeikh Fatah Rahmatullah (Tanjung Singguru, Samarang, Garut), Syeikh Abdul Muhyi (penganut Syatariyah; Pamijahan, Tasikmalaya), dan para menak dan ulama dari Cirebon dan Mataram seperti Pangeran Santri di Sumedang dan Arif Muhammad di Cangkuang (Garut).

Tokoh Syarif Hidayatullah
SEPERTI telah diuraikan di atas bahwa ketika selesai menunaikan ibadah haji, Nyi Mas Larasantang dinikahkan oleh kakaknya (Walangsungsang) dengan Syarif Abdullah, seorang penguasa kota Mesir dari klan al-Ayyubi dari dinasti Mamluk. Ia adalah putera dari Nurul Alim atau Ali Burul Alim yang mempunyai dua saudara, yaitu Barkat Zainal Abidin (buyut Fadhilah Khan, Faletehan) dan Ibrahim Zainal Akbar, yaitu ayah dari Ali Rahmatullah atau raden Rahmat atau Sunan Ampel (Yuyus Suherman, 1995:14). Nurul Alim, Barkat Zainal Abidin, dan Ibrahim Zainal Akbar merupakan keturunan Rasulullah saw. Nurul Alim menikah dengan puteri penguasa Mesir (wali kota), karena itulah Syarif Abdullah (puteranya) menjadi penguasa (wali kota) Mesir pada masa dinasti Mamluk. Hasil pernikahan antara Syarif Abdullah dengan Nyi Mas Larasantang melahirkan dua putera yaitu, Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang lahir di Mekkah pada tahun 1448 dan Syarif Nurullah yang lahir di Mesir.

Syarif Hidayatullah muda berguru agama kepada beberapa ulama terkenal saat itu. Di antaranya ia berguru kepada Syeikh Tajuddin al-Kubri di Mekkah dan Syeikh Athaillah, seorang penganut terekat Sadziliyyah dan pengarang kitab tasawuf, al-Hikam, masing-masing selama dua tahun. Setelah merasa cukup pengetahuan agamanya, ia memohon kepada kedua orang tuanya untuk berkunjung kepada kakak ibunya (Pangeran Cakrabuana) di Cirebon yang pada waktu itu menduduki tahta kerajaan Islam Pakungwati.

Selama di perjalanan menujuk kerajaan Islam Pakungwati di Cirebon, Syarif Hidayatullah menyempatkan diri untuk singgah di beberapa tempat yang dilaluinya. Di Gujarat India, ia singgah selama tiga bulan dan sempat menyebarkan Islam di tempat itu. Di Gujarat ia mempunyai murid, yaitu Dipati Keling beserta 98 anak buahnya. Bersama Dipati Keling dan pengikutnya, ia meneruskan perjalanannya menuju tanah Jawa. Ia pun sempat singgah di Samudera Pasai dan Banten. Di Pasai ia tinggal selama dua tahun untuk menyebarkan Islam bersama saudaranya Syeikh Sayyid Ishak. Di Banten ia sempat berjumpa dengan Sayyid Rakhmatullah (Ali Rakhmatullah atau Syeikh Rahmat, atau Sunan Ampel) yang sedang giatnya menyebarkan Islam di sana.

Sesampainya di Cirebon, Syarif Hidayatullah giat menyebarkan agama Islam bersama Syeikh Nurjati dan Pangeran Cakrabuana. Ketika itu, Pakungwati masih merupakan wilayah kerajaan Galuh dengan rajanya adalah Prabu Jaya Dewata, yang tiada lain adalah kakek dari Syarif Hidayatullah dan ayah dari Nyi Mas Larasantang. Oleh karena itu, Prabu Jaya Dewata tidak merasa khawatir dengan perkembangan Islam di Cirebon. Syarif Hidayatullah bahkan diangkat menjadi guru agama Islam di Cirebon, dan tidak lama kemudian ia pun diangkat semacam “kepala” di Cirebon. Syarif Hidayatullah giat mengadakan dakwah dan menyebarkan Islam ke arah selatan menuju dayeuh (puseur kota) Galuh. Prabu Jaya Dewata mulai gelisah, kemudian ia memindahkan pusat pemerintahannya ke Pakuan Pajajaran yang terletak di wilayah kerajaan Sunda dengan rajanya Prabu Susuktunggal, yang masih merupakan paman (ua; Sunda) dari Jaya Dewata. Tetapi karena Pabu Jaya Dewata menikah dengan Mayang Sunda, puteri Susuk Tunggal, maka perpindahan bobot kerajaan dari Galuh (Kawali Ciamis) ke Pakuan Pajajaran (Bogor) bahkan mempersatukan kembali Galuh-Sunda yang pecah pada masa tahta Prabu Dewa Niskala, ayah Prabu Jaya Dewata. Di Pajajaran, Prabu Jaya Dewata mengganti namanya menjadi Sri Baduga Maharaja (lihat Didi Suryadi, Babad Limbangan, 1977:46).

Pada tahun 1479, Pangeran Cakrabuana mengundurkan diri dari tapuk pimpinan kerajaan Pakungwati. Sebagai penggatinya, maka ditasbihkanlah Syarif Hidayatullah sebagai sultan Cirebon yang baru. Di bawah pimpinan Syarif Hidayatullah, Pakungwati mengalami puncak kemajuannya, sehingga atas dukungan dari rakyat Cirebon, Wali Songo, dan Kerajaan Demak, akhirnya Pakungwati melepaskan diri dari Pajajaran. Sudah tentu, sikap ini mengundang kemarahan Prabu Jaya Dewata dan berusaha mengambil alih kembali Cirebon. Namun penyerangan yang dilakukan Prabu Jaya Dewata tidak berlangsung lama. Dikatakan bahwa Prabu Jaya Dewata mendapatkan nasihat dari para Purohita (pemimpin agama Hyang) yang menyatakan bahwa tidak pantas terjadi pertumpahan darah antara kakek dan cucunya. Lagi pula berdirinya Cirebon pada dasarnya merupakan atas jerih payah putera darah biru Pajajaran, yaitu Pengeran Cakrabuana.
Pada tanggal 13 Desember 1521 M, Prabu Siliwangi mengundurkan diri dari tahta kerajaan Pajajaran, untuk selanjutnya menjadi petapa suci sesuai dengan kepercayaan yang dianutnya. Sebagai penggantinya adalah Pangeran Surawisesa yang dilantik pada bukan Agustus 1522 M dengan gelar Sanghyang. Pangeran Surawisesa inilah yang secara resmi melakukan perjanjian kerjasama dengan Portugis yang naskah perjanjiannya ditandatangani pada 21 Agustus 1522 M, berisi tentang kerjasama di bidang perdagangan dan pertahanan. Rintisan kerja sama antara Pajajaran dan Portugis itu telah dirintis sejak Prabu Jaya Dewata masih berkuasa. Peristiwa tersebut merupakan peristiwa pertama dalam sejarah diplomatik Nusantara, boleh dikatakan bahwa ia merupakan seorang raja dari Nusantara yang pertama kali melakukan hubungan diplomatik dengan orang-orang Eropa.

Perjanjian kerjasama antara Pajajaran dan Portugis itu telah menimbulkan kekhawatiran bagi kerajaan Demak dan Cirebon. Karena itulah pada tahun 1526 M, Sultan Trenggono dari Demak mengutus Fadhilah Khan (Fathailah atau Faletehan) ke Cirebon untuk sama-sama menguasai Sunda Kelapa yang pada waktu itu masih berada dalam kekuasaan Pajajaran. Strategi ini diambil agar pihak Portugis tidak dapat menduduki pelabuhan Sunda Kelapa. Tidak berapa lama pad atahun 1527 M Portugis datang ke Sunda Kelapa untuk mewujudkan cita-cita mendirikan benteng di Muara Kali Ciliwung daerah bandar Sunda Kelapa. Namun pasukan Portugis dipukul mundur oleh pasukan Fadhilah Khan yang waktu itu sudah bergelar Pangeran Jayakarta.
Banyak nama yang dinisbahkan pada Pengeran terakhir ini, yaitu Pengeran Jayakarta, Fatahilah, Faletehan, Tagaril, dan Ki Bagus Pase. Penisbahan nama terakhir terhadapnya karena ia berasal dari Samudera Pasai. Ia merupakan menantu Sultan Trenggono dan Sultan Syarif Hidayatullah. Hal ini karena Faletehan selain menikah dengan Ratu Pembayun (Demak), ia juga menikah dengan Ratu Ayu atau Siti Winahon, puteri Syarif Hidayatullah, janda Pati Unus yang gugur di Malaka (Yuyus Suherman, 1995:17). Dengan menikahi putri Demak dan Cirebon, maka Faletehan memiliki kedudukan penting di lingkungan keluarga kedua keraton itu. Karena itulah, ketika Syarif Hidayatullah meninggal pada 19 September 1568 M, maka Faletehan diangkat menjadi pengganti Syarif Hidayatullah sebagai Sultan di Cirebon. Peristiwa itu terjadi ketika Pangeran Muhammad Arifin (Pangeran Pasarean), putra Syarif Hidayatullah, mengundurkan diri dari tahta kerajaan Islam Cirebon. Muhammad Arifin sendiri lebih memilih menjadi penyebar Islam di tatar Sunda bagian utara dan sejak itulah ia lebih dikenal dengan nama Pangeran Pasarean.

Ketika Faletehan naik tahta di Cirebon ini, saat itu, Jayakarta (Sunda Kelapa) diperintah oleh Ratu Bagus Angke, putra Muhammad Abdurrahman atau Pangeran Panjunan dari putri Banten. Namun Faletehan menduduki tahta kerajaan Cirebon dalam waktu yang tidak lama, yakni hanya berlangsung selama dua tahun, karena ia mangkat pada tahun 1570 M. Ia dimakamkan satu komplek dengan mertuanya, Syarif Hidayatullah, yakni di Astana Gunung Jati Cirebon. Ia kemudian digantikan oleh Panembahan Ratu.
Khatimah
DEMIKIANLAH sekilas mengenai uraian historis tentang peran Pangeran Cakrabuana, Kian Santang, dan Syarif Hidayatullah dalam proses penyebaran Islam di tanah Pasundan yang sekarang menjadi tiga wialyah, yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten. Berdasarkan uraian di atas, maka terdapat beberapa kesimpulan dan temuan sementara yang dapat dijadikan bahan rujukan untuk penelitian selanjutnya.
Pertama, bahwa orang yang pertama menyebarkan Islam di daerah pesisir utara Cirebon adalah Pangeran Walangsungsang atau Adipati Cakrabuana atau Ki Cakrabumi atau Ki Samadullah atau Syeikh Abdul Iman, yang mendirikan kerajaan pertama Islam Pakungwati. Ia adalah ua dari Syarif Hdiayatullah.
Kedua, Kian Santang merupakan anak ketiga dari pasangan Prabu Siliwangi dan Nyi Subang Larang yang beragama Islam. Ia dilahirkan pada tahun 1425, dua puluh lima tahun sebelum lahir Sunan Gunung Jati dan Mualana Syarif Hidayatullah. Ia mulai menyebarkan agama Islam di Godog, Garut pada tahun 1445. Ia adalah penyebar Islam pertama di pedalaman tatar Sunda. Ia merupakan paman dari Syarif Hidayatullah. Ia disebutkan berasal dari wilayah Cirebon, tepatnya dari Kerajaan Sindangkasih (Majalengka).
Ketiga, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati adalah nama tokoh yang berbeda dengan Faletehan. Keduanya memiliki peran yang berbeda dalam usaha menyebarkan agama Islam di tanah Pasundan.

Daftar Pustaka
  • Didi Suryadi. 1977. Babad Limbangan.
  • Edi S. Ekajati. 1992. Sejarah Lokal Jawa Barat. Jakarta: Interumas Sejahtera.
  • _________. 1995. Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarahi). Jakarta: Pustaka Jaya.
  • Hamka. 1960. Sejarah Umat Islam. Jakarta: Nusantara.
  • Pemerintahan Propinsi Jawa Barat. 1983. Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat.
  • Sulaemen Anggadiparaja. T.T. Sejarah Garut Dari Masa Ke Masa. Diktat.
  • Yuyus Suherman. 1995. Sejarah Perintisan Penyebaran Islam di Tatar Sunda. Bandung: Pustaka.


Artikel Asli Dari Tiga Tokoh Penyebar Agama Islam di Pasundan | Cakrabuana | Syarif Hidayatullah | Kian Santang
Di www.siswatkj.co.cc
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial
http://www.siswatkj.co.cc/2010/11/tiga-tokoh-penyebar-agama-islam-di.html

Kumpulan Puisi Chairil Anwar 1

AKU


Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

MALAM

Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
--Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang

Zaman Baru,
No. 11-12
20-30 Agustus 1957

PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

(1948)
Siasat,
Th III, No. 96
1949

KRAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

(1948)
Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957


DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai



Maju
Serbu
Serang
Terjang

(Februari 1943)
Budaya,
Th III, No. 8
Agustus 1954



PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

(1948)

Liberty,
Jilid 7, No 297,
1954


PENERIMAAN

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

Maret 1943


http://diancallista.blogspot.com/2010/11/kumpulan-puisi-chairil-anwar-1.html

Puisi Cinta Karya Chairil Anwar

TAMAN

Taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang.
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia

Maret, 1943

Romantis sekali bukan terdengarnya? Seperti yang biasa terlukis pada mimpi-mimpi pasangan muda yang baru saja menikah. Memiliki dunia berdua, membangun sebuah rumah mungil, keluarga yang sederhana tetapi ada kedekatan jarak satu sama lain…. Hmm, Ahmad Albar bilang: Lebih baik di sini rumah kita sendiri…

LAGU BIASA

Di teras rumah makan kami kini berhadapan
Baru berkenalan. Cuma berpandangan
Sungguhpun samudra jiwa sudah selam berselam

Masih saja berpandangan
Dalam lakon pertama
Orkes meningkah dengan “Carmen” pula.

Ia mengerling. Ia ketawa
Dan rumput kering terus menyala
Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi
Darahku terhenti berlari

Ketika orkes memulai “Ave Maria”
Kuseret ia ke sana…

Maret 1943

Terlihat bukan, betapa jiwa Chairil pun bergolak pada pandangan pertama. Dari mata turun ke hati, lalu “klik”. Dan bagian selanjutnya; Ia mengerling // Ia ketawa // dan rumput kering terus menyala… Chairil, sungguh pintar di sini, biasanya seseorang yang melihat gadis manis dan ia jatuh hati akan menghadapi dua kemungkinan, hatinya bergetar atau nafsunya (baca: anunya) menggelegak, ia malah memakai metafora “dan rumput kering terus menyala”. Rumput apa rumput, Bang??!!

Sekarang ada puisi yang lebih aneh lagi, Chairil sendiri memberikan judul “Sajak Putih” seolah dia sendiri tahu bahwa sajak-sajaknya berwarna warni, dan dia juga menjudge sendiri bahwa sajak yang satu ini sebuah sajak yang berwarna putih…

SAJAK PUTIH

buat tunanganku Mirat

bersandar pada tari warna pelangi
kau depanku bertudung sutra senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senda

sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik menari seluruh aku

hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu bagiku menengadah
selama kau darah mengalir dari luka
antara kita Mati datang tidak membelah…

Buat miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di
alam ini!
Kucuplah aku terus, kucuplah
Dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku…

18 Januari 1944

So sweet….! Diawali oleh rayuan dan puji, ditengahi dengan janji sehidup semati yang bahkan kematian pun tak mampu memisahkan, lalu diakhiri dengan pengakuan cinta adalah untuk saling memberi dan menerima. Cinta ideal begitu tergambar di sini.

Puisi Cinta Chairil Anwar Yang Sedih
Sekarang kita beranjak pada puisi cinta Chairil Anwar yang beraroma kesedihan. Yang pertama adalah sajak tentang perpisahan. Sajak tentang perpisahan yang diakibatkan karena; “sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring”. Padahal puisi ini ditujukan pada “dia” yang telah diambilnya berdasarkan pilihan bebas Chairil, bait ini menjelaskannya; “ku pilih engkau dari yang banyak”. Tampaknya, meskipun telah mendapat pendamping yang dimauinya, sepi masih saja menggelayuti kehidupan. “Nasib adalah kesunyian masing-masing”.

PEMBERIAN TAHU

Bukan maksudku mau berbagi nasib,
nasib adalah kesunyian masing-masing.
Kupilih kau dari yang banyak, tapi
sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring.
Aku pernah ingin benar padamu,
Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali,

Kita berpeluk cium tidak jemu,
Rasa tak sanggup kau kulepaskan.
Jangan satukan hidupmu dengan hidupku,
Aku memang tidak bisa lama bersama
Ini juga kutulis di kapal, di laut tak bernama!

1946

Ada dua buah lagi puisi dari perasaan hati yang sedih, karya Chairil Anwar:

HAMPA

kepada Sri yang selalu sangsi

Sepi di luar, sepi mendesak-desak
Lurus-kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak
Sepi memagut
Tak suatu kuasa-berani melepaskan diri
Segala menanti. Menanti-menanti.
Sepi.
Dan ini menanti penghabisan mencekik
Memberat-mencengkung punda
Udara bertuba
Rontok-gugur segala. Setan bertampik
Ini sepi terus ada. Menanti. Menanti.

Maret 1943

SENJA DI PELABUHAN KECIL

buat Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut.

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai ke empat, sedu penghabisan bisa terdekap.

1946

Dua puisi di atas, adalah puisi tentang kesepian. Puisi tersebut ditujukan pada nama yang sama. Padahal rentang waktu kepenulisan Chairil diantara kedua puisi ini cukup lama,1943 dan 1946. Ini menandakan si Sri di sini benar-benar mampu memberikan rasa cinta padanya, sekaligus bonus perasaan sepi.
Dua puisi tersebut sebangun, namun pada puisi kedua curhat itu lebih implisit. Dia tidak banyak menggunakan kata sepi dan menanti lagi, bahkan juga metafora yang keras seperti puisi pertama: udara bertuba. Pada puisi kedua, ia hanya menggambarkan perasaan melalui lukisan tentang pelabuhan kecil di sore hari.
Beda lainnya, pada puisi pertama secara gamblang ia menulis “buat Sri yang selalu sangsi”, sedang yang kedua “buat Sri Ajatun”. Yang pertama, ada terlukis suatu tudingan. Yang kedua, lebih sebagai rasa kepasrahan. Capai menunggu?
Puisi yang kedua itu merupakan favorit saya, polanya lebih tertata rapi dan lebih liris.

Puisi Chairil Anwar memang, kaya warna. Hampir diseluruh puisnya, baik itu di dalam puisi perjuangan/herois, puisi cinta atau pun puisi tentang pandangan kegamaan, akan terlihat ada gelora di seluruh puisinya. Ada “rasa kental” di setiap puisinya, jejak kehidupannya, maklumlah…. Kan Chairil itu Penyair….

http://arstiven454.wordpress.com/2010/11/02/puisi-cinta-karya-chairil-anwar/

Beri komentar pada blog ini

AdBrite